<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sih Munadi</title>
	<atom:link href="http://sihmunadi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sihmunadi.wordpress.com</link>
	<description>Sebuah Perjalanan Menemukan Diri yang Hilang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Jun 2011 11:48:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sihmunadi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sih Munadi</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sihmunadi.wordpress.com/osd.xml" title="Sih Munadi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sihmunadi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bertengkarlah dengan Benar&#8230;..</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/05/24/bertengkarlah-dengan-benar/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/05/24/bertengkarlah-dengan-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 08:38:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Sedang dalam keadaan tidak akur, tetapi terpaksa harus tampil wajar, maklum di rumah mertua. Membuat hari minggu pagi itu, aku mengajak untuk pergi berdua  keluar rumah, menikmati udara Bandung di minggu pagi hari. Belum juga mandi, Akupun menghidupkan motor dan kemudian berdua istri pergi meninggalkan rumah menyusuri jalan Cibaduyut, menyeberang Leuwi Panjang dan berbelok ke &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2011/05/24/bertengkarlah-dengan-benar/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=157&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/05/tengkar9475421.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-159" title="tengkar" src="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/05/tengkar9475421.jpg?w=150&#038;h=119" alt="" width="150" height="119" /></a>Sedang dalam keadaan tidak akur, tetapi terpaksa harus tampil wajar, maklum di rumah mertua. Membuat hari minggu pagi itu, aku mengajak untuk pergi berdua  keluar rumah, menikmati udara Bandung di minggu pagi hari.</p>
<p style="text-align:left;">Belum juga mandi, Akupun menghidupkan motor dan kemudian berdua istri pergi meninggalkan rumah menyusuri jalan Cibaduyut, menyeberang Leuwi Panjang dan berbelok ke Tegallega.  Selepas Tegallega, semula yang ingin ke Gasibu, berubah pikiran dan memilih melewati jalan ke arah Binong &#8211; Kiara Condong. Sudah lama tidak mengikuti ceramah Pak Jalal di Masjid Munawarrah di setiap minggu pagi.<span id="more-157"></span></p>
<p style="text-align:left;">Mungkin karena memang tidak ada kesungguhan, atau mungkin karena belum mandi, maka saat Pak Jalal memberi ceramah, aku bukannya takzim mendengarkan, tetapi sebentar-sebentar &#8230;. mulut menganga lebar-lebar. <em>Angop</em>. Badanku memang di Masjid itu, tetapi pikiranku mengembara terhanyut layu oleh mata yang ngantuk. Tetapi aku masih selalu ingat dengan kata-kata pak Jalal belasan tahun yang telah lalu. Orang yang berada di majelis ilmu, malaikat akan merentangkan sayapnya memberikan rahmatnya, walaupun niatnya bukan untuk menuntut ilmu. Ingat kata-kata itu aku tetap membuat aku bersandar dengan berkali mulut membuka lebar-lebar dengan tangan berkali-kali menutup rapat-rapat mulut agar tidak reflek membuka lebar-lebar.</p>
<p style="text-align:left;">Entah harus berapa kali tangan mengatupkan mulut, tibalah sesi tanya jawab. Sebuah pertanda baik, bahwa ceramah sebentar lagi akan berakhir.</p>
<p style="text-align:left;">Di Masjid Munawarah, hadirin menuliskan pertanyaan ke dalam kertas dan penceramah membaca dan menjawabnya. Pertanyaan pertama (kemungkinan besar dari seorang wanita) yang dibaca Pak Jalal seperti ini ;</p>
<p style="text-align:left;">“Seorang teman bertanya, dia sedang menggugat cerai suami, karena suami melarangnya bekerja di lingkungan yang ada lelakinya. Suaminya sangat pencemburu padahal penghasilan suami tidak mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Bahkan seringkali mereka bertengkar hebat ketika istri diantar pulang oleh rekan kerja lelaki, karena ada rapat sampai malam. Karena seringnya bertengkar akhirnya si istri timbul kemarahan dan kebencian pada sifat posesif suaminya. Akhirnya dia berbuat tekad untuk menggugat cerai, meski suami tidak setuju. Bagaimana tanggapan ustad atas kasus tersebut, apakah alasan tersebut sudah membolehkan istri untuk meminta cerai, karena rumah tangga sudah seperti neraka.</p>
<p style="text-align:left;">Jawab pak Jalal :</p>
<p style="text-align:left;">Mungkin saya harus membawa keduanya di laboratorium di Amerika Serikat yang diasuh oleh john. Di situ pasangan disuruh bertengkar dan direkam kemudian di rekam oleh televisi dan dianalisis, dan diberitahu bagaimana cara bertengkar yang baik yang memecahkan persolan. Seandaninya katanya jutaan pasangan di dunia sempat ke laboratorium itu sebentar mungkin sudah bisa diselematkan jutaan pasangan keluarga. apakah Bagaimana bertengkar yang baik yang memecahkan masalah. Bermula dari cara mereka bertengkar, cara berkomunikasi satu dengan yang lain</p>
<p style="text-align:left;">Kita sering melakukan apa yang disebut dengan <em>Failed Communication</em>. Kita berkomunikasi itu untuk mencari siolusi. Kalau bertengkar adalah mencari pemecahan masalah. Sekarang yang terjadi adalah kedua pihak berusaha mempertahankan bahwa dia benar dan mencari kesalahan pasangan.</p>
<p style="text-align:left;">Kita bertengkar dan direkam kemudian dianalisis bersama. Komunikasi itu menurut al-Quran, kita diciptakan bergolong-golongan, lelaki dan perempuan, berbangsa-bangsa untuk saling memahami. Kadang kala kita berkomunikasi untuk saling menghakimi. Setiap orang berkomunikasi dengan dia menjadi hakim dan lawannya menjadi terdakwa. Mereka bertengkar dan kedua-duanya menjadi hakim dan tidak mau jadi terdakwa.</p>
<p style="text-align:left;">Hehehehe…. Dari sekian banyak hal yang disampaikan pak Jalal… hanya hal itu saja yang dapat dibawa pulang… selebihnya mbuhlah….</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=157&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/05/24/bertengkarlah-dengan-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/05/tengkar9475421.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">tengkar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suatu Ketika dalam Hiburan Manten</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/05/18/suatu-ketika-dalam-hiburan-manten/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/05/18/suatu-ketika-dalam-hiburan-manten/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 01:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu acara pernikahan di sebuah desa di kabupaten di pulau Jawa.  Dikisahkanlah sebuah “hiburan”  yang mengiringi acara pernikahan dari pagi sampai malam hari. Acara resmi dimulai pukul 08.30, dimulai dengan ayat-ayat suci al-Quran mengalun dari seorang wanita berkerudung dan diakhiri dengan seorang lelaki berkopiah berbaju koko menerjemahkannya dengan “ Mahasuci Allah yang telah menciptakan &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2011/05/18/suatu-ketika-dalam-hiburan-manten/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=146&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/05/quran.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-153" title="quran" src="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/05/quran.jpg?w=150&#038;h=102" alt="" width="150" height="102" /></a>Pada suatu acara pernikahan di sebuah desa di kabupaten di pulau Jawa.  Dikisahkanlah sebuah “<em>hiburan</em>”  yang mengiringi acara pernikahan dari pagi sampai malam hari.</p>
<p>Acara resmi dimulai pukul 08.30, dimulai dengan ayat-ayat suci al-Quran mengalun dari seorang wanita berkerudung dan diakhiri dengan seorang lelaki berkopiah berbaju koko menerjemahkannya dengan “ <em>Mahasuci Allah yang telah menciptakan semua pasangan, baik dari apa yang tumbuh di bumi, dan dan jenis mereka (manusia) maupun dari (makhluk-makhluk) yang tidak mereka ketahui</em> ( 36: 36) “.. Dan prosesi pernikahanpun mulailah.<span id="more-146"></span></p>
<p>Pukul 09.30 perjanjian sakral saat dimana hal yang tidak diperbolehkan menjadi boleh akhirnya terjadi. Suara tangis haru dari kedua mempelai mengiringi selesainya acara sakral itu. Tidak lama kemudian terdengar suara , <em>“….duhai senangnya penganten baru.. duduk bersanding</em>…“ sebuah lagu dari Nasida Ria dibawakan seorang wanita berkerudung dari atas panggung.  Diiringi dengan serombongan orang lelaki perempuan yang menggunakan baju putih-putih, yang wanita berkerudung dan yang lelaki berkopiah putih. Berurutab mereka menyanyikan lagu-lagu ruhani, mengiringi persiapan pengantin yang akan duduk di kursi pelaminan menjadi raja-ratu sehari.  Lagu-lagu yang dibawakannya lagu-lagu relijus baik khasidah, nasyid modern sampai dengan lagu-lagunya Bimbo. Itu berlangsung selama 1 jam ke depan.</p>
<p>Pukul 10.00 acara prosesi adat daerahpun berlangsung. Suara gendhing <em>Kebo Giro</em> mengiringi langkah-langkah pelan dan teratur sepasang penganten itu menuju singgasana.  Tembang asmaradhana karya R Ng Yosodipuro, &#8230;.<em>dedalaning wong akrami</em>&#8230;&#8230;  keluar dari seorang lelaki paruh baya memberi nasehat kepada sepasang penganten itu , bagaimana hidup berumah tangga.</p>
<p>Sekian waktu berlalu, keluarlah berbagai makanan hidangan kepada para hadirin, Saat itulah seorang pria paruh baya tadi, berkumis tebal, berblangkon memberikan hiburan tembanga “…<em>upomo sliramu sekar melati… aku kumbang nyidam sariii… upomo sliramu mergi wong maniss… aku kang tansah ngliwatii…</em> .. “ lagu dari Manthous terdengar dari nya ditemani dengan seorang wanita montok<em> kembenan</em> seperti bajunya Suyahni yang di VCD, mereka berdua dan ditemani dengan 4 orang lainnya membawakan berbagai langgam Jawa sampai campursari.. yang ditingkahi dengan suara para <em>gerong</em> yang <em>nyeletuk</em> dari belakang layar. Hadirin pun duduk menikmati sambil makan hidangan dan sambil kipas-kipas kepanasan.</p>
<p>Pukul 14.00 upacara resmi adat pengantin selesai. Tetapi keluarga masih menerima kerabat dan semua yang tidak sempat hadir pada waktunya.</p>
<p>“<em>selain dirimu paksiihhh..tiada yang lain lagi</em>“ suara Nurhalimah KW2 keluar dari biduan di hadapan seorang tamu lelaki yang menyawer-nya. Biduan dan biduanita, bergantian membawakan lagu-lagu dari Rhoma Irama, Mansyur S atau Elvi Sukaesih. Di luar, di atas panggung biduan dangdut berbaju ketat, celana ketat dan baju kaos ketat tapi lengan panjang. 1 jam menjelang adzan maghrib, Hiburan dangdut selesai.</p>
<p>Selepas maghrib suasana hening, sampai kemudian beberapa saat selepas isya’ tumpukan pengeras suara berdentam kembali, mendentamkan lagu suara dangdut dari VCD.</p>
<p>Pkl 21.00 penganten dan keluarga masih sibuk dengan berhaha-hihi menerima ucapan basa-basi dari rekan sejawat sama persis seperti tadi siang. Sementara di atas panggung,  hiburan dangdut dilanjutkan, sekarang lagu yang dibawakan adalah dangdut koplo dan campur sari.</p>
<p>23.00 <em>temanten sekalia</em>n masuk kamar, kecapekan sekujur tubuh pegal-pegal melayani salaman dan ngomong-ngomong basa-basi kepada para tamu.  Meskipun begitu, nyala mata mereka tetap berbinar. Apa saja yang selama ini hanya menjadi bayangan, sebentar lagi akan menjadi nyata. Apakah mata berbinar akan mampu mengalahkan  pegal-pegal ? Itu urusan mereka berdua. Yang jelas di luar, di atas panggung, suara kendang menghentak-hentak mengiringi seorang Biduan meliuk-liukan pinggul, menaikkan darah lelaki yang menontonnya. “<em>Kuda lumping… kuda lumping… kuda lumping…</em> “ suara biduan itu dan disambut serempak para penonton dengan sepenuh gairah, “..<em>kesurupannn</em>..”</p>
<p>Sementara persis di depan panggung, anak-anak kecil bersorak-sorai mendongak melihat biduan yang hanya menggunakan selembar kain melingkar bokong, menutupi celana dalam yang dikenakan.  Membiarkan pusar kelihatan dan sebelum baju kaos ketat menutup lingkar dada.</p>
<p><a href="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/05/mella11.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-154" title="mella1" src="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/05/mella11.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a><em>Awas jangan dekat-dekattt….. melihat permainan iniiii……</em> “ si biduan menggerakkan jari-jarinya seirama dengan goyang pinggulnya, di hadapan anak-anak itu, dengan kerling  menggoda, seperti mengajak mereka untuk segera tumbuh dewasa.</p>
<p>Selesai itu berganti biduan yang membawakan <em>Goyang Dombret</em> dan <em>Warudoyong</em>. Inilah session terakhir dari hiburan manten. …. Dangdut Koplo Campur Saru.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=146&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/05/18/suatu-ketika-dalam-hiburan-manten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/05/quran.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">quran</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/05/mella11.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">mella1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/02/08/wanita/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/02/08/wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 04:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[“Berambut panjang dan berfikiran pendek*) !!!  Begitulah ungkapan yang digambarkan oleh peradapan Eropa tentang wanita ketika Eropa masih jauh untuk mengklaim diri sebagai benua yang paling beradab di muka bumi. Manusia (lelaki) memandang wanita sebagai bagian dari dirinya yang kurang sempurna. Sesuatu jenis manusia yang masih harus perlu dipahami eksistensi dirinya.  (inikah kenapa ada mata &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2011/02/08/wanita/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=136&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/02/wanita-solehah.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-138" title="wanita solehah" src="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/02/wanita-solehah.png?w=300&#038;h=189" alt="" width="300" height="189" /></a>“Berambut panjang dan berfikiran pendek</strong><a href="http://kangmumu.multiply.com/journal/compose?usertoken=UmFuZG9tSVaEKtG0nDG.Grw1qXqaHBDjUPaYLJmEzzck7iOyx4dnNw==#_ftn1">*</a>) !!!  Begitulah ungkapan yang digambarkan oleh peradapan Eropa tentang wanita ketika Eropa masih jauh untuk mengklaim diri sebagai benua yang paling beradab di muka bumi. Manusia (lelaki) memandang wanita sebagai bagian dari dirinya yang kurang sempurna. Sesuatu jenis manusia yang masih harus perlu dipahami eksistensi dirinya.  (inikah kenapa ada mata kuliah Psikologi Wanita, tapi tidak untuk Pria ? <span id="more-136"></span></p>
<p>Begitulah jaman, dunia, dan kenyataan telah merendahkan wanita sedemikian rupa, dimanapun, apapun, kapanpun dan sampai saat inipun. Sepertinya dunia ini diciptakan Tuhan khusus untuk laki-laki dan Wanita adalah penghias dari muka bumi ini, sejajar dengan harta dan pangkat.</p>
<p>Sebagai penghias maka wanita akan menampakkan/ditampakkan dirinya dimanapun agar nampak indah dan semarak. Koran, majalah, televisi akan terasa “begitu-begitu saja” tanpa kehadiran perempuan di dalamnya. Berpakaian apapun, bahkan tidak berpakaian pun wanita sama menariknya.</p>
<p>Dan wanita ada yang merasa menjadi korban dalam kejadian seperti ini, tetapi tidak sedikit pula yang menikmati nya.</p>
<p>Tetapi <strong>Jalaluddin Rumi</strong> menyatakan, “ Wanita adalah seberkas sinar Tuhan, dia bukan lah kekasih duniawi,  Engkau boleh mengatakan dia bukan ciptaan “</p>
<p>Dalam khazanah Tasauf, wanita menduduki dataran paling tinggi bahkan lebih tinggi dari lelaki. Kalau lelaki adalah pecinta, perempuan adalah yang dicintai. Tentu lebih tinggi yang dicintai dari pada yang mencintai.</p>
<p>Menurut <strong>Ibnu Arabi</strong>, Tuhan dapat disaksikan ketika Dia menampakkan diri-Nya sendiri (<em>Tajalli</em>) dalam segala sesautu yang dia ciptakan. penampakan Tuhan yang terlihat paling sempurna itu dapat tersaksikan dalam diri Wanita.</p>
<p>Dan bisakah perempuan menampilkan Tuhan dalam sosok dirinya atau bisakah lelaki menyaksikan penampakan Tuhan dalam diri perempuan ? jangan-jangan jawaban keduanya adalah <strong> Tidak </strong>!!</p>
<p>*) dari Kutipan Buku karya Murtadho Muthahari, &#8220;Wanita dalam Islam&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://sihmunadi.wordpress.com/category/siapa/'>Siapa</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=136&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/02/08/wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/02/wanita-solehah.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">wanita solehah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Terjung Malino</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/17/125/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/17/125/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 06:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dimana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Sekelompok anak-anak remaja, mengelilingi kubangan besar tempat air itu terjatuh. Mereka berdiri memandang tempat jatuhnya air dan dan memperhatikan air yang turun jatuh dari puncak bukit yang tiada berhenti. Gumpalan-gumpalan air yang jatuh tiada henti, terpecah menjadi butiran-butiran halus ketika terbentur dengan landasan bebatuan. Butiran-butiran halus itu, kemudian bersama angin yang bertiup mengalir dan menempel &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/17/125/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=125&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_127" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/img00372-20100620-06381.jpg"><img class="size-medium wp-image-127" title="IMG00372-20100620-0638" src="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/img00372-20100620-06381.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Air Terjung Malino</p></div>
<p>Sekelompok anak-anak remaja, mengelilingi kubangan besar tempat air itu terjatuh. Mereka berdiri memandang tempat jatuhnya air dan dan memperhatikan air yang turun jatuh dari puncak bukit yang tiada berhenti. Gumpalan-gumpalan air yang jatuh tiada henti, terpecah menjadi butiran-butiran halus ketika terbentur dengan landasan bebatuan. Butiran-butiran halus itu, kemudian bersama angin yang bertiup mengalir dan menempel ke tempat-tempat yang dilalui. Meskipun berada dijarak yang cukup jauh dari air terjun, tidak begitu lama kemudian badan mereka menjadi basah. Dua orang diantaranya, melepas baju dan juga celana panjang, menyisakan celana pendek. Kemudian turun lebih dekat ke kubangan air, di antara bebatuan.<span id="more-125"></span></p>
<p>“Cobalah !” kata seseorang yang berdiri di atas batu besar sambil memperhatikan pijakan-pijakan kakinya agar tidak terpeleset dan jatuh di kali. Di tangannya sebuah kamera digital, yang siap untuk dibidikkan ke arah temannya itu. Dia seolah memancing keberanian kedua teman itu, untuk mendekat ke arah jatuhnya air di kubangan. Mungkin akan dipotret jika kedua temannya itu mau berendam di kubangan.</p>
<p>“Ahh enggak !” kata lelaki lainnya yang bertelanjang dada dan kedua kakinya terendam di dalam air setinggi betis di pinggir kubangan air itu. Dirinya hanya membungkukkan badan, menangkupkan tangan dan menciprat-cipratkan air ke dalam danau kecil itu.</p>
<p>Tempat dimana air terjun berakhir adalah sebuah kubangan yang tidak terlalu besar, yang dikelilingi batu-batuan besar. Tidak diketahui bagaimana kedalaman kubangan itu dan apakah batu-batu terjal yang berbahaya berbahaya atau tidak. Apakah hanya setinggi pinggang, atau cukup dalam dan mampu menelan mereka untuk selamanya. Tidak  jelas benar. Tempat itu cukup menyimpan misteri, tidak heran jika di antara mereka tidak ada yang mau mencoba membuktikan berapa kedalamannya. Mereka hanya saling pandang, tidak berani untuk mencoba membuktikan.</p>
<p>Dengan bentuk kubangan air terjun seperti itu, lalu dimanakah tempat orang <em>kungkum</em> merendam diri, yang konon akan dientengkan jodohnya bila melakukan di tempat ini ?. Tidak ada tempat yang nyaman untuk merendam diri di dalamnya. Air mengalir di sela-sela batu besar, yang hanya seukuran tubuh yang miring. Kemudian air itu mengalir ke tempat yang lebih bawah dengan turunan yang cukup curam. Pendek kata, tidak ada tempat yang longgar untuk merendam diri.</p>
<p>Di sebuah batu yang paling besar, di dekat turunan yang curam, aku memperhatikan tingkah polah anak-anak itu.</p>
<p>Pagi telah bergerak naik, sinar matahari sudah menyentuh ujung daun pepohonan. Anak-anak remaja itu merapikan baju-baju mereka dan hendak menyudahi kegembiraan bersama di air terjung ini. Sopir <em>pete-pete</em> yang kemarin mencarikan penginapan menelpon dan menanyakan jam berapa aku akan meninggalkan Malino menuju Makasar. Sopir itu segera menutup pembicaraan setelah aku katakan akan balik ke Makasar nanti siang.</p>
<p>Anak-anak itu kemudian mengenakan kembali pakaian-pakaiannya. Satu persatu anak-anak itu meninggalkan area air terjung ini dan berjalan melalui jalan setapak di samping aku duduk. Sampai kemudian orang terakhir memberi salam dan mengucapkan permisi, Sempat terbersit keinginan untuk diam-diam <em>kungkum </em>sepeninggal mereka, <em>mumpung</em> tidak ada orang yang melihat.</p>
<p>Tetapi untuk apa ?. Tanpa kepercayaan bahwa tempat ini adalah tempat yang memiliki karomah, akan enteng jodoh bila<em> kungkum </em>di dalamnya, kita hanya akan basah kuyup</p>
<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Air Terjun Malino</dd>
</dl>
</div>
<p>menggigil kedinginan dan menderita gatal-gatal di sekujur tubuh.</p>
<p>Tetapi kenapa tida</p>
<p>k ?, kita akan merasakan sensasi rasa, yang menyegarkan dan menjadi bahan cerita pernah berendam di tempat yang orang menganggap memiliki k</p>
<p>aromah, yang tidak setiap orang melakukan.</p>
<p>Berendam, tidak. Berendam, tidak. Berendam, tidak. Beberapa saat, terjadi timbang menimbang keputusan, antara berendam dan tidak !</p>
<p>Tetapi kemudian datang pula pikiran aneh yang lain. Kalau dalam film-film horor setelah anak-anak itu pergi dan aku sendiri di air terjun itu. Tiba-tiba akan ada wanita-wanita cantik yang pergi ke air terjun itu dan kemudian kita berkenalan sampai kemudian aku pergi entah kemana dan orang ramai di luar memberitakan aku tersesat. Bagaimana bila itu terjadi sesungguhnya…. hiiiii… ahh jangan. Aku tidak ingin menjadi pusat pemberitahuan dan seluruh orang  menjadi orang terkenal gara-gara hilang mengikuti wanita entah siapa di air terjun ini.</p>
<p>Aku segera berdiri, melangkahkan kaki meninggalkan batu besar itu selagi rombongan anak-anak itu masih tampak dari pandangan.</p>
<p>*syhm*</p>
<br />Filed under: <a href='http://sihmunadi.wordpress.com/category/dimana/'>Dimana</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=125&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/17/125/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/img00372-20100620-06381.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG00372-20100620-0638</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nick Vujicic : &#8221; No Arms No Legs No Worries&#8221;</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/14/nick-vujicic-no-arms-no-legs-no-worries/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/14/nick-vujicic-no-arms-no-legs-no-worries/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 09:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Dari seorang Ibu yang menjadi seorang perawat yang membantu kelahiran/Bidan. Sebagai seorang bidan tentu saja si Ibu ini merawat kandungannya dengan sangat teliti, berbagai hal-hal yang berbahaya bagi kandungan. Saat yang dinantikan pun tiba, keluarlah ke dunia luar seorang bayi. Tetapi betapa terkejutnya si Ibu karena sang bayi ternyata tanpa tangan dan kaki. Dia adalah &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/14/nick-vujicic-no-arms-no-legs-no-worries/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=114&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_121" class="wp-caption alignleft" style="width: 107px"><a href="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/e1bb6f0abe499cb01.jpeg"><img class="size-full wp-image-121 " title="e1bb6f0abe499cb0" src="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/e1bb6f0abe499cb01.jpeg?w=97&#038;h=150" alt="" width="97" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Nick Kecil</p></div>
<p>Dari seorang Ibu yang menjadi seorang perawat yang membantu kelahiran/Bidan. Sebagai seorang bidan tentu saja si Ibu ini merawat kandungannya dengan sangat teliti, berbagai hal-hal yang berbahaya bagi kandungan. Saat yang dinantikan pun tiba, keluarlah ke dunia luar seorang bayi. Tetapi betapa terkejutnya si Ibu karena sang bayi ternyata tanpa tangan dan kaki. Dia adalah <strong>Nick Vujicic</strong> yang lahir pada 4 Desember 1982 di Melbourne Australia dari keluarga Kristen Serbia.<span id="more-114"></span></p>
<p>Si Ibu membesarkan anak itu sebagai seorang yang mandiri. Dia disekolahkan di sekolah umum bukan sekolah luar biasa untuk anak-anak disabel. Sebagai seorang yang tidak memiliki tangan dan juga kaki, sudah terbayang kesulitan-kesulitan yang bakal dialami. Dia tidak bisa melakukan hal yang orang lain bisa lakukan. Banyak teman-temannya mengejeknya dan menjulukinya sebagai manusia cigarete, manusia putung rokok, karena tubuhnya itu. Dia juga merasa tidak memiliki teman, karena teman-teman nya tentu memilih orang yang normal yang tidak menjadi beban bagi mereka.</p>
<p>Bukan main cobaan yang harus dilalui Nick kecil untuk tumbuh menjadi seorang dewasa. Hanya untuk berdiri jika dia jatuh saja, perlu belajar ratusan kali sampai kemudian dia bisa bangun lagi seperti semula. Begitu juga ketika harus menyikat giginya setiap hari. Tetapi dia tidak menyerah dan terus belajar untuk mandiri.</p>
<p>Jelas bukan sesuatu hal yang mudah sampai kemudian seseorang mau menerima keterbatasan dirinya. &#8220;<em><strong>Anda tidak merasakan bagaimana berada dalam posisi seperti saya </strong></em>!&#8221; kata Nick sambil meneteskan air mata. . Dengan kondisi fisik yang seperti itu, tidak ada dalam bayangan Nick untuk memiliki pacar dan menikah. “Tidak akan ada wanita yang akan menerima apa adanya. Aku tidak bisa memeluk, membelai, menjabat tangan dan juga berdansa saat pernikahan !”. katanya. Tetapi Nick kemudian menerima dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Nick terus berusaha mandiri tanpa mengandalkan bantuan orang lain kepadanya. Berat jalan harus dilalui untuk melewatkan masa kecil, remaja, dewasa dan akhirnya lulus sebagai sarjana akuntansi.</p>
<p>Kini Nick hidup sebagai seorang kaya di usia muda, umur 24 tahun sudah menjadi  pengusaha investasi, seorang motivator sukses, mendirikan beberapa rumah sakit dan yatim piatu. selain itu juga sebagai seorang  rohaniawan Nasrani Nick dan aktifmemberikan pencerahan dari gereja ke gereja.</p>
<p>Ketika ditanya, apakah rahasianya sehingga bisa menjadi seorang seperti ini ?</p>
<p>“<strong>Thankfulness !</strong>” begitu jawabnya. (syhm)</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_120" class="wp-caption alignnone" style="width: 180px"><a href="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/nick-vujicic-baby11.jpg"><img class="size-full wp-image-120" title="nick-vujicic-baby1" src="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/nick-vujicic-baby11.jpg?w=170&#038;h=273" alt="" width="170" height="273" /></a><p class="wp-caption-text">Nick Kecil</p></div>
<div id="attachment_122" class="wp-caption alignnone" style="width: 152px"><a href="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/8a3d4332c4a836c21.jpeg"><img class="size-full wp-image-122" title="8a3d4332c4a836c2" src="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/8a3d4332c4a836c21.jpeg?w=142&#038;h=150" alt="" width="142" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Nick Besar</p></div>
<br />Filed under: <a href='http://sihmunadi.wordpress.com/category/siapa/'>Siapa</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=114&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/14/nick-vujicic-no-arms-no-legs-no-worries/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/e1bb6f0abe499cb01.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">e1bb6f0abe499cb0</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/nick-vujicic-baby11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nick-vujicic-baby1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sihmunadi.files.wordpress.com/2011/01/8a3d4332c4a836c21.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">8a3d4332c4a836c2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Something Special about Jodoh&#8230;</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/12/something-special-about-jodoh/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/12/something-special-about-jodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 10:05:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu malam sekian tahun yang silam. Kunaefi, satu teman di Psiko99e UI, yang sering mampir untuk sekedar ngobrol-ngobrol masalah ini-itu, datang di tempat kost di kawasan Margonda. “Kalau memang perjodohan adalah sebuah takdir dari Allah, apakah ada sebuah tanda khusus ketika pertama kali bertemu dengan seseorang yang kelak menjadi pasangan hidup ?” katanya pada &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/12/something-special-about-jodoh/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=110&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu malam sekian tahun yang silam. Kunaefi, satu teman di Psiko99e UI, yang sering mampir untuk sekedar ngobrol-ngobrol masalah ini-itu, datang di tempat kost di kawasan Margonda.</p>
<p>“<strong><em>Kalau memang perjodohan adalah sebuah takdir dari Allah, apakah ada sebuah tanda khusus ketika pertama kali bertemu dengan seseorang yang kelak menjadi pasangan hidup</em> </strong>?” katanya pada pada malam itu.</p>
<p>Aku diam melongo dan menyimpang pertanyaan dalam hati, kenapa ya Allah memasangkan si Fulan dengan si Fulanah, padahal sifat-sifat mereka berbeda. Kunaefi melanjutkan ceritanya, “Saya sudah menanyakan ke teman-teman !”</p>
<p>“Apa kata mereka ?” sergahku penasaran.</p>
<p>“Pada umumnya, mereka memang merasakan hal yang berbeda ketika mereka menemukan seseorang yang sekarang menjadi pasangan hidupnya. Sesuatu yang spesial dalam pandangan mereka, dibandingkan dengan orang-orang yang lain. Ada seorang cewek, yang memiliki beberapa calon. Tetapi dia kurang sreg. alasannya ini-itu. Pada suatu ketika dia langsung menerima, ketika dia baru bertemu dengan seseorang yang baru dikenalnya. Padahal orang baru yang baru dikenal ini, sebenarnya tidak memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan calon yang lain. Tidak lebih ganteng, tidak lebih kaya. Biasa saja !.” katanya penuh semangat dengan hasil temuannya ini.</p>
<p>“Walaupun ada juga yang tidak merasakan apa-apa !” dia menambahkan pengecualian pada akhirnya juga, tetapi dia yakin bahwa memang ada perasaan yg berbeda ketika kita berjumpa pertama kali dengan seseorang itu.</p>
<p>Betulkah ? Betulkah kita merasakan <em>something special</em> seseorang yang akan menjadi jodoh kita ketika diawal perjumpaan kita. Bahkan Rieke Dyah Pitaloka, dalam wawancara di infotainment ketika dia ditanya kenapa menikah dengan dosen UI, dia menjawab, ( kira-kira begini ) “<strong><em>waktu saya bertemu dengannya, saya merasa yakin dia adalah orang yang akan menemani perjalanan hidup saya </em></strong>!” begitu tandasnya, kenapa dia putus dengan tunangannya dan memilih mas dosen itu.</p>
<p>Bagaimana menurut Anda ?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(syhm)</p>
<br />Filed under: <a href='http://sihmunadi.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=110&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2011/01/12/something-special-about-jodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalah Taruhan melawan diri sendiri</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2010/04/22/kalah-taruhan-melawan-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2010/04/22/kalah-taruhan-melawan-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 08:46:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
				<category><![CDATA[5584]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[“Tidak makan Pak !?, puasa ? ” tanya teman di kantor ketika mengajak makan siang bersama selepas sholat Jumat. “Ya semacam itulah .. !” Jawabku memberi pembenaran atas peneguhan pertanyaannya. “Wah rajin sekali, lha memang Jumat-Jumat puasa apaan ? khan katanya tidak boleh puasa di hari Jumat aja !!” “Siapa bilang tidak boleh, puasa boleh &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2010/04/22/kalah-taruhan-melawan-diri-sendiri/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=105&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<strong>Tidak makan Pak !?, puasa ? </strong>” tanya teman di kantor ketika  mengajak makan siang bersama selepas sholat Jumat.</p>
<p>“Ya semacam itulah .. !” Jawabku memberi pembenaran atas peneguhan  pertanyaannya.</p>
<p>“Wah rajin sekali, lha memang Jumat-Jumat puasa apaan ? khan katanya  tidak boleh puasa di hari Jumat aja  !!”<br />
<span id="more-105"></span><br />
“Siapa bilang tidak boleh, puasa boleh dilakukan kapan saja termasuk  hari Jumat tanpa hari yang lain sebagai penyambungnya !” aku kemudian  berkilah, sambil mengutip pendapat seseorang ulama, sebagai pembenaran  atas sikapku.</p>
<p>Setelah mereka pergi makan dan meninggalkan aku, terpikir juga…sejak  kapan aku rajin puasa ???. Dalam hal sesungguhnya, aku memang termasuk  orang yang jarang berpuasa sunnah. Bisa dihitung dengan bilang jari  untuk puasa sunnah Senin Kamis, apalagi puasa Daud. Sebenarnya memang  aku tidak puasa pada hari jumat ini, tetapi hanya tidak makan siang  saja.</p>
<p>**</p>
<p>“<strong>Filsafat adalah mencari jawab atas pertanyaan mengapa manusia tidak  bunuh diri ! </strong>” begitulah Ustad <strong>Hussein Shahab</strong> mengutip  kata-kata <strong>Albert Camus </strong> tentang filsafat di kuliah Filsafat Islam  di Muthahari dan Pusat Studi Jepang UI. Albert Camus mengungkapkan  keheranannya bagaimana manusia selalu mengulang-ulang pekerjaan yang  sama setiap harinya.<br />
Diceritakan mengenai seorang manusia yang bersusah payah mendorong  sebuah batu besar dari bawah bukit untuk naik sampai ke puncak bukit.  Sesampai di puncak bukit, batu dilepas dan digelindingkan lagi ke bawah.  Setelah di bawah, batu itu didorong lagi ke atas, dan kemudian  digelindingkan lagi ke bawah, demikian seterusnya dan berulang-ulang,  sampai kemudian manusia itu tua dan mati.</p>
<p>Begitu pula yang kita alami setiap hari, kita juga melakukan hal yang  sama secara berulang-ulang. Pagi selalu diawali dengan Bunyi alarm yang  menyalak dan disusul kumandang adzan shubuh. Mandi, sholat subuh dan  sampai kemudian pukul 6 kurang 5 menit, membuka pintu untuk pergi ke  stasiun Citayam.  Naik kereta pukul 6 lebih 10 menit, dan tiba di kantor  sekitar jam 7.00. Di Kantor kemudian kita menerapkan hasil pendidikan  kita dengan menjadi juru tulis dan tukang telpon, kutak-katik di depan  komputer seharian dan sampai sore hari pergi lagi ke stasiun Gondangdia  pulang ke Depok. Pulang ke rumah, tidur. Begitulah ritme yang sama  setiap hari, berulang-ulang.</p>
<p>**</p>
<p><strong>Kereta Bojong</strong>, ( sudah Gede, Ekspres pula!), bukan kereta yang  menggunakan kartu abonemen, dan tidak ada penumpang yang mendapatkan  jatah tempat duduk di bangku tertentu. Penumpang harus berebut tempat  duduk di mana saja dia dapat. Namun begitu,  posisi tempat duduk para  penumpang tidak banyak berubah dan selalu di gerbong yang sama setiap  harinya.</p>
<p>Naik dari <strong>stasiun Citayam</strong>, aku selalu berebut berdesakan masuk  dengan orang yang sama. Di dalam keretapun, berdiri dihadapan  orang-orang yang sama setiap harinya. Hampir selalu di depan Ibu pegawai  Pegadaian yang duduk sambil setengah terkantuk-kantuk, dan aku berdiri  membaca koran di depannya. Seperti aku, ibu ini nanti turun di  Gondangdia.</p>
<p>Di <strong>Stasiun PondokChina</strong>, kereta berhenti untuk menaikkan lagi  penumpang. Penumpang inipun adalah penumpang yang sama setiap harinya.  Karena aku laki-laki, yang aku perhatikan adalah sekumpulan perempuan  muda, 4 atau 5 orang dalam kumpulan itu, pegawai sebuah bank di daerah  Kota.. Seorang perempuan jangkung, seorang yang berkacamata, seorang  dengan jilbab ( setelah pakai jilbab si mbak ini jadi kelihatan gemuk )  dan seorang lagi gak ada ciri khusus, atau karena aku tidak terlalu  memperhatikan… wah kasihan. Mereka hampir selalu para perempuan itu  berdiri di sekitarku. Namun begitu, walaupun berbulan-bulan berdiri di  tempat yang sama, tujuan yang searah, tetapi diantara kita selalu juga  saling diam tanpa kata tanpa suara dan tidak pernah bertegur sapa.</p>
<p>Ternyata manusia memiliki pola tindakan yang sama dan cenderung menetap  untuk berada dalam situasi yang sama setiap harinya. Jelas tidak akan  mudah untuk menjawab sebuah pertanyaan, “kenapa selalu berdiri di tempat  yang sama denganku ?” tidak ada yang tahu pasti, bahkan oleh mereka  sendiri pula. Yang pasti dengan berdiri di dekatku,  mereka pasti merasa  aman, karena yakin, di dekatnya bukan satu manusia yang berprofesi  alternatif sebagai tukang copet atau penjahat seksual di dalam kereta.</p>
<p>**</p>
<p>Bulan Oktober yang lalu, tiba-tiba ada pikiran yang aneh-aneh melintas  di kepalaku. Yakni sebuah hitungan seberapa sering sekumpulan pegawai  bank ini berdiri di sekitarku ?. Dari hitungan turus di kalenderku,  ternyata dari Minggu terakhir Oktober sampai Minggu ketiga November, <strong>hanya  lima kali</strong> para perempuan pegawai Bank itu tidak berdiri di  sampingku. Minggu terakhir aku pulang klaten jadi tidak mungkin  menghitung turus statistik sampai akhir November.  Wah hebat… kayak  juragan minyak tiap hari selalu dikelilingi gadis-gadis.</p>
<p>Hampir selalu berdiri di belakangku adalah si mbak berkacamata, dengan  kening selalu ada bintik keringat yang membuat bedak di mukanya tampak  berantakan dan tisue di tangan untuk mengelap. Tidak ada yang terlampau  istimewa, tetapi aku selalu mengenal kebiasaannya.  Tiap hari dia  berdiri di belakangku, membaca koran Warta Kota, setelah itu sibuk  pencet-pencet meng-update status FB dan kemudian “meeting” operasional  review tentang kerjaan dengan teman-temanya.</p>
<p>Dan di akhir minggu 3, Jumat 20 November, aku membuat <strong>taruhan</strong> untuk diriku sendiri. Lebih gampang nagih janjinya. Taruhannya jika si  mbak berkaca mata itu berdiri di belakangku, aku akan <strong>mentraktir  diriku sendiri</strong> makan siang sendirian di <strong>Sate Senayan</strong> depan  kantor. Tetapi kalau si mbak tidak berada di belakangku, maka aku <strong>tidak  akan makan siang </strong>hari ini.</p>
<p>Jumat itu seperti biasa aku berangkat pagi-pagi dan menggunakan pakaian  yang biasanya dipakai pada hari Jumat. Tetapi ketika Naik dari stasiun  Citayam, aku tidak mendapatkan hari ini sebagai hari yang biasa. Ibu  pegawai Pegadaian, tidak duduk di tempat seperti biasa. Di sampingku,  berdiri seorang wanita yang biasanya duduk dengan kursi lipat di dekat  pintu. Dan di sekelilingku orang-orang yang berbeda, tidak seperti  biasanya. Benar saja…, sesampai di Pondok China, ketika sekumpulan  perempuan pegawai bank itu masuk, si mbak di sampingku menjadi  penghalang bagi si mbak berkaca mata untuk berdiri di belakangku.  Berselang satu orang. Harapan terakhir adalah para penumpang di UI masuk  dan mendesak si mbak berkaca mata ini untuk bergeser ke belakangku.  Tetapi itupun, akhirnya tidak kesampaian juga. dibelakangku sudah  berdiri sekelompok lelaki dan tidak akan mungkin untuk digeser lagi.</p>
<p>Jadi &#8230;. Hari ini Aku kalah dan siang itu tidak makan siang.</p>
<p><strong>end</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://sihmunadi.wordpress.com/category/5584/'>5584</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=105&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2010/04/22/kalah-taruhan-melawan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khayalan dalam Kesempitan</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2010/02/06/khayalan-dalam-kesempitan/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2010/02/06/khayalan-dalam-kesempitan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 08:17:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
				<category><![CDATA[AVPD - 1]]></category>
		<category><![CDATA[Dimana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari menjelang sore di akhir bulan Mei 2004. Di dalam kereta rel listrik ekonomi arah Bogor yang datang terlambat. Gerbong sudah dipadati penumpang, meskipun kereta baru sampai di stasiun Gondangdia. Tidak usah berharap tempat duduk, berdiri dan mendapatkan besi untuk berpeganganpun sudah tidak bisa. Hawa pengap dengan Aneka aroma bau bercampur menjadi satu menjadi &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2010/02/06/khayalan-dalam-kesempitan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=92&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><strong>Suatu hari menjelang sore</strong> di akhir bulan Mei 2004. Di dalam kereta rel listrik ekonomi arah Bogor yang datang terlambat. Gerbong sudah dipadati penumpang, meskipun kereta baru sampai di stasiun Gondangdia. Tidak usah berharap tempat duduk, berdiri dan mendapatkan besi untuk berpeganganpun sudah tidak bisa.<span id="more-92"></span> Hawa pengap dengan Aneka aroma bau bercampur menjadi satu menjadi aroma khas yang tidak didapatkan selain di dalam kereta ini. Tidak ada beda lagi antara minyak wangi dan bau kecut asam cuka. Hanya angin yang menyelusup masuk melalui kaca jendela yang pecah, menjadi penghibur atas pengap-nya perjalanan ini.</p>
<p>Depanku sebelah kiri, seorang wanita dengan paras yang lumayan juga. Sedang di depan sebelah kanan, seorang lelaki setengah baya pegawai Pemda. Di antara kedua orang inilah aku berdiri persis di belakang mereka. Sebentar-sebentar aku melihat jam tangan yang digunakan lelaki pegawai Pemda itu, dan mengukur terasa lambatnya perjalanan kereta ini. Mampu tidak kereta ini sampai di UI sebelum pukul 5 ?.</p>
<p>Sore hari ini adalah perkuliahan pak Kurnia, dosen psikologi SDM, yang terkenal angker. Pak Kurnia sudah mensyaratkan pukul 5 sore batas keterlambatan, lebih dari jam itu, dianggap tidak masuk. Sanksi yang diancamkan berat yakni langsung didrop tidak lulus, jika titip atau dititipi absen, sehingga mahasiswa juga tidak berani berbuat curang itu. Aku sudah 5 kali absen, sudah memenuhi 30% batas ketidakhadiran. Itu batas maksimal dan hanya perlu sekali lagi ketidakhadiran, untuk secara otomatis mengulang tahun depan. Jika itu terjadi, dan aku tidak lulus mata kuliah ini, aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan konsentrasi kerja di Telkom, tanpa harus mencuri waktu, pergi kuliah diam-diam. Tetapi ada kata-kata Pak Kurnia, yang masih teringat sampai sekarang, “Siapa yang benar-benar berusaha sekuat tenaga pasti akan bisa!”. Katanya sambil menyeka buih putih yang di sekitar bibirnya. <em>Man jada wa jadda, </em> seperti kata novel. Maka mengingat itu pula, aku memaksa diri masuk, ketika kereta rel listrik ekonomi tujuan Bogor yang sarat penumpang berhenti di Gondangdia. Sebagaimanapun penuhnya.</p>
<p>Pukul setengah lima, kereta sampai ke Tebet. Para penumpang masuk lagi dan memaksa penumpang yang sudah di dalam untuk lebih berdempetan. Datangnya penumpang baru itu, membuat aku terpaksa menggeser titik berdiriku sedikit ke kiri. Dan terjadilah posisi sedemikian rupa sehingga aku berdiri persisi di belakang wanita bertampang kantoran itu. Karena posisinya sedemikian rupa tak ayal pikiran mesum sempat menggoda. Detak jantung menjadi tidak beraturan, apalagi kalau si wanita ini bergerak…. syaraf lelaki tersendak sampai ke otak.</p>
<p>Untungnya ( <strong> atau ruginya ? </strong>) di stasiun Cawang, kereta berhenti, penumpang kembali masuk dan dorongan penumpang yang baru masuk menggeser aku lagi sehingga sekarang tidak lagi “sedemikian rupa”. Sehingga pikiran mesum tidak lagi membayangi pikiran dalam diam. Berbarengan dengan itu pula, terasa empuk-empuk menempel di punggung. Terdengar lenguhan akibat sakitnya himpitan, dan itu adalah lenguhan wanita di belakangku.</p>
<p>Kembali hasyrat kelelakianku dipermainkan. Otak mesum kembali diaduk, Aku mengatur nafas merasakan sentuhan empuk di punggung. Aku mencoba mengalihkan pikiran, dan mengingat empuknya <em>plendungan</em> juga seperti itu. Tetapi aku hanya lelaki kelewat biasa dan hasrat kelelakian mengalahkan manipulasi logika konyol itu. Sehingga khayalan-khayalan sensual tetap menari-nari, di antara sakitnya sekujur tubuh karena saling gencet dan sesak nafas. Kata orang yang biasa naik kereta ekonomi, itulah sebuah kenikmatan dalam kesempitan. “Nikmati saja !” seorang teman pernah berkata kepadaku begitu. Aku hampir menyetujui perkataan teman itu, hal semacam ini belum tentu bisa didapatkan setiap hari atau setiap orang. Tetapi ingatan akan sholat maghrib basah kuyup di kampus, membuat aku harus berfikir ulang. <em>Enake sak klenteng, rekasane sak rendeng. </em> Kenikmatannya sesaat, susahnya berkepanjangan. Aku memang bukan sebaik-baiknya orang Islam, tetapi aku tidak pernah meninggalkan sholat dengan sengaja.</p>
<p>Lama aku dipermainkan hasyrat kelelakian, apalagi wanita di belakangku itu seperti sengaja menyentuh-nyentuh benda lunak itu ke punggungku. Atau paling tidak, tidak ada upaya dari wanita itu untuk menjaga jarak antara benda lunak miliknya dengan punggungku. Selama perjalanan itu ada pertentangan hebat antara ”dinikmati saja” dan bayangan sholat Maghrib basah kuyup di kampus. Air bersih, untuk membasahi rambut sebasahnya, memang bisa diusahakan di kamar mandi/toliet kampus, kaos dalam bisa difungsikan sebagai handuk, dan sabun-sampo tidak seberapa penting, tetapi bagaimana menjawab pertanyaan teman, ”kok rambutnya basah kuyup, khan bukan musim penghujan ?” Aku tidak mampu menjawab pertanyaan itu dengan tenang, tanpa rasa bersalah.</p>
<p>Untungnya (atau ruginya ?) kereta mencapai Lenteng Agung. Aku menjadi lega, nafasku tidak lagi tersenggal-senggal. Himpitan penumpang yang begitu rapat, memaksa harus bersiap lebih awal, agar mampu keluar di stasiun UI. Kini pikiran bisa dialihkan untuk bagaimana menembus rapatnya orang-orang. Rupanya wanita di belakangku itu, setujuan dan melakukan hal yang sama denganku. Bersusah payah, sekuat tenaga aku menyelipkan diri, menyibakkan satu demi satu penumpang yang berdempetan. Akhirnya di stasiun UI aku berhasil juga keluar gerbong. Aku menghela nafas panjang, setelah merasakan sesak nafas sepanjang perjalanan.</p>
<p>Begitu juga dengan wanita itu. Wanita itu melangkah keluar dengan tangan kiri mendekap tas punggung yang digendong di depan dada, dan tangan kanannya di depan muka, menggenggam dan menggelantung di bawahnya plastik kresek warna hitam.</p>
<p>Plastik kresek hitam ?. Plastik kresek warna hitam dengan benda kenyal di dalamnya ?<br />
Jadi ???</p>
<p>Bergegas aku berjalan menuju kampus, karena sekarang sudah pukul 05.00 sore, lebih sedikit.<br />
<strong> &#8211;end&#8211;</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://sihmunadi.wordpress.com/category/avpd-1/'>AVPD - 1</a>, <a href='http://sihmunadi.wordpress.com/category/dimana/'>Dimana</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=92&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2010/02/06/khayalan-dalam-kesempitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pada Sebuah Perjumpaan</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2010/02/06/pada-sebuah-perjumpaan/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2010/02/06/pada-sebuah-perjumpaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 07:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu akhir pekan di sebuah café di Jakarta, menunggu seseorang. Dia dulu gadis cantik yang aku kenal saat awal-awal kerja di Jakarta, di tahun 96an.  Sebenarnya aku malu ketika dirinya mengajak bertemu, jika mengingat sikap yang tidak dewasa yang aku tunjukkan ketika mencoba mendekati dia dulu. Diantara mabuk kepayang dan ketidakmampuan untuk mengungkapkan dengan &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2010/02/06/pada-sebuah-perjumpaan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=85&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pada suatu akhir pekan</strong> di sebuah café di Jakarta, menunggu seseorang. Dia dulu gadis cantik yang aku kenal saat awal-awal kerja di Jakarta, di tahun 96an.  Sebenarnya aku malu ketika dirinya mengajak bertemu, jika mengingat sikap yang tidak dewasa yang aku tunjukkan ketika mencoba mendekati dia dulu. Diantara <strong>mabuk kepayang </strong>dan ketidakmampuan untuk mengungkapkan dengan baik, itulah kemudian terjadi tindakan di luar akal kewarasan, yang memalukan dan menggelikan. Puncak-nya adalah kemarahan dia, ketika aku mengirim surat cinta via fax ke kantornya.<span id="more-85"></span></p>
<p>Benar kata orang, cinta telah membuat lelaki menjadi seniman. <strong>Suara hati</strong> yang tidak terungkapkan menjelma menjadi kata-kata mutiara yang menghiasi buku-buku, file-file komputer, dinding kamar, bahkan halte-halte, terutama jalan antara Senen dan Blok M.</p>
<p>Ketika di UI di mata kuliah Ilmu Budaya, rangkaian kata-kata itu kemudian diiringi gitar tunggal dan didramakan di depan kelas. Aku menjadi seniman dadakan. Dosen terpukau dan memberi komentar panjang lebar. Pak Dosen memberi selamat seraya berkata, “ini karya orisinil yang selaras dengan tujuan pengajaran saya!” Ah&#8230;. dia tidak tahu <strong>derita hati</strong> ini.<br />
***<br />
Dirinya memang gadis yang cantik dan banyak orang jatuh ahti padanya. Aku salah satunya. Sebagai orang yang baru datang dari Klaten pedalaman, perasaan rendah diri menghinggapi dan bersemayam di lubuk perasaan yang dalam. Jauh dari perkiraan semula, ternyata aku mengalami Perasaan rendah diri bukan kepalang, bahkan sampai tingkat <strong><em>dissorder</em></strong> dan memerlukan perawatan di samping stasiun kereta di pinggiran Depok bagian utara. Itulah mengapa kemudian aku kalah bersaing dengan lelaki Jakarta berebut perhatiannya.</p>
<p>“<strong>Hati kita akan bertemu dalam sebuah perjumpaan, entah kapan !</strong>” Sebuah kalimat pendek sebagai penutup dalam sebuah draft novel yang tidak jadi, menjadi permakluman atas kekalahan dan memendam harapan akan datangnya kemungkinan, dikelak kemudian hari.</p>
<p>Masa-masa patah hati dan luapan kekecewaan tertuang dalam lembaran-lembaran uang kertas lima ribuan. Ditulis dengan sepenuh pengharapan, agar uang itu akan sampai ke tangannya dan membaca ungkapan perasaanku itu. <strong> “sebulan waktu yang teramat lama untuk mendapatkan gadis-gadis, tetapi seabadpun waktu yang singkat untuk melupakan senyum manismu” </strong> kalimat yang tertulis dalam uang kertas lima ribuan itu. Memang, aku jauh dari tipikal lelaki idaman, tetapi nama besar Telkom telah mengangkat derajatku lebih tinggi, Sehingga tidak susah untuk mendapatkan pengganti. Dan memang begitu nyatanya.<br />
(<strong>Note </strong>: Tetapi itu kata-kata gombal juga, karena dengan bergantinya waktu dan datang perginya orang-orang disekitar kita, tidak perlu waktu begitu lama untuk menganggapnya sebagai orang biasa-biasa saja. Dasar lelaki !! )</p>
<p>**</p>
<p>Dan “<strong>akan bertemu dalam sebuah perjumpaan, entah kapan!</strong>” itu, sekarang telah datang. Facebook-lah makelarnya.</p>
<p>“Kamu sekarang lebih gemuk dan tampak lebih makmur. Tentu disukai gadis-gadis sekarang. Begitukah.?!” Dia memuji fotoku di facebook, yang menggunakan <strong> batik </strong>saat peringatan hari batik nasional. Yang mengingatkan akan kata-katanya, “harusnya berat badanmu ditambah lima kilo lagi !!” dulu di waktu itu. Ah seandainya waktu itu aku seperti sekarang ini&#8230;</p>
<p>Belasan tahun tidak bertemu, Seperti apakah dia sekarang ? Entahlah. Di facebook memang banyak foto, tetapi hanya foto anak-anaknya dan keluarga, tanpa ada satupun foto dirinya.</p>
<p>Penasaran. Semalam aku membongkar-bongkar kembali tumpukan majalah tempo edisi lama, mencari gambar foto <strong>Ria Irawan</strong> sedang berdiri membaca buku. Gambar itu yang dulu aku gunakan membandingkan kecantikannya dan sekarang akan aku gunakan untuk mereka kembali bagaimana perwajahannya kira-kira sekarang. Tetapi sayang majalah Tempo tidak berhasil ditemukan. Mungkin ikut dalam majalah yang aku sumbangkan beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>**<br />
&#8211;delete&#8211;<br />
**</p>
<p><strong>Aku membenci pertemuan itu</strong>. Pertemuan yang telah membakar habis <strong>figure wanita</strong> sempurna yang telah dilukis bertahun-tahun di dalam bawah alam sadarku.</p>
<p>Pertemuan ini bukan hanya menyita waktu tetapi juga menghilangkan khayalan sempurna tentang seorang wanita idaman. Tidak lagi aku lihat senyumnya, yang dulu memaksa aku menulis surat malam-malam karena dan tidak bisa tidur, tetapi kini terlihat bekas telapak tangan dipipinya. Tidak ada lagi daya tarik seperti dulu, sekarang bertimbun banyak lemak yang melingkari perutnya dan tampaknya sakit-sakitan.</p>
<p>Aku juga tidak mampu banyak bicara, sama seperti ketika aku bertemu dengan dirinya dulu, dan sama-sama bingung apa yang harus aku katakakan. <strong>Semua tampak kikuk</strong>.</p>
<p><strong>end</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://sihmunadi.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=85&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2010/02/06/pada-sebuah-perjumpaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga anak itu menatapku tajam-tajam.</title>
		<link>http://sihmunadi.wordpress.com/2009/02/07/tiga-anak-itu-menatapku-tajam-tajam/</link>
		<comments>http://sihmunadi.wordpress.com/2009/02/07/tiga-anak-itu-menatapku-tajam-tajam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 10:47:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sihmunadi***</dc:creator>
				<category><![CDATA[AVPD - 1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sihmunadi.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Tiga anak itu menatapku tajam-tajam. Kedatanganku mengusik ketenangan dan menghadirkan ketakutan bagi mereka. Mereka duduk dengan kaki ditekuk, saling berdempetan dan saling berebut tempat duduk di paling pojok, menghindari kedatanganku. Tubuh mereka lemah dan tampak kurang makan. Kasihan aku melihat anak-anak itu dan tidak kuasa menatap matanya berlama-lama. Mereka masih tetapi dalam seusia segitu dia &#8230; <a href="http://sihmunadi.wordpress.com/2009/02/07/tiga-anak-itu-menatapku-tajam-tajam/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=79&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tiga anak itu menatapku tajam-tajam. Kedatanganku mengusik ketenangan dan menghadirkan ketakutan bagi mereka. Mereka duduk dengan kaki ditekuk, saling berdempetan dan saling berebut tempat duduk di paling pojok, menghindari kedatanganku. Tubuh mereka lemah dan tampak kurang makan. <span id="more-79"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kasihan aku melihat anak-anak itu dan tidak kuasa menatap matanya berlama-lama. Mereka masih tetapi dalam seusia segitu dia harus berjuang untuk tetap bertahan hidup demi mereka sendiri tanpa perlindungan atas rasa ketakutan yang cukup dari ibu, apalagi bapaknya. Induk yang tidak bertanggung jawab. Aku ingin tahu di mana ibu mereka, tetapi aku tidak tahu bagaimana mengucapkannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kasihannn&#8230;. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku geram kepada ibu mana yang dengan tega mentelantarkan anak-anak mereka. Tega meninggalkan mereka bersama dinginnya malam. Anak-anak ini seperti dipaksa untuk berjuang bertahan hidup tanpa perlindungan dari ketakutan atas ancaman apapun yang datang dari sekelilingnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Betapa banyak anak-anak yang dikorbankan atas nama kenikmatan sesaat dan kemudian untuk menghindar dari rasa malu, mereka itu dibuang, ditelantarkan bahkan tidak sedikit yang dibunuh. Mereka bermain-main dengan setitik air yang kemudian dengan sentuhan tangan Tuhan kelak menjelma menjadi makhluk hidup yang bernama. Tetapi mereka tidak mampu untuk mempertanggungjawabkannya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam perjalanan pulang pergi naik kereta Depok-Jakarta, aku sering kali mendapatkan anak-anak seperti itu di setiap stasiun yang aku lewati. Kasihan, Iya. Tetapi apa yang aku lakukan ?, Tidak ada !. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Badanku terasa capek, setelah menempuh serangkaian perjalanan jauh. Sarapan pagi di Jember, makan Soto Ambengan di Genteng Kali Surabaya selepas dzuhur dan beruntung bisa mencapai Jakarta sebelum pukul 22.00, untuk kemudian makan mie Goreng di bawah stasiun Gondangdia dan naik kereta terakhir menuju Depok. Terkadang aku merasa, apa yang aku lakukan sebuah perjalanan sia-sia yang tidak ada gunanya, walaupun sebenarnya apa yang aku lakukan bernilai ekonomi dan bertajuk menghabiskan libur awal tahun ”ala gua”. Tetapi ya sudahlah setiap orang mengalami perjalanan mencari jati diri yang aneh dalam hidupnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sesampai di Stasiun Depok, mendung tebal yang dari tadi sudah menggelayut di langit, mulai menjatuhkan titik lembut-nya. Aku berusaha sesegera mungkin sampai rumah sebelum hujan turun, dan dapat beristirahat yang cukup untuk mempersiapkan diri masuk kantor kembali besok paginya. Beruntung sudah sampai rumah sebelum hujan turun dan mendapati ketiga anak itu sudah berada di pojok emperan rumah, terkena sorot lampu motorku. Mereka berkumpul berdempetan dalam sebuah kotak. Rumahku, sebuah rumah yang tidak berpintu pagar, sehingga leluasa bagi siapapun dan apapun, kalau mau, untuk berteduh atau bertujuan apapun di emperan rumah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rintik hujan, yang sepertinya menunggu aku sampai ke rumah, turun semakin deras. Tampias air ditiup angin mulai membasahi lantai keramik di emperan, tidak terkecuali juga kotak tempat anak-anak itu berlindung. Aku kasihan, tetapi tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya memandang kepada mereka, yang mereka balas dengan pandangan juga. Tanpa kata tanpa suara. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kemudian aku berbalik badan meninggalkan mereka. Tidak tega memang tetapi apa boleh buat, aku lebih memilih masuk rumah dan menutup pintu setelah memasukkan motor. Hanya kertas koran terbitan Surabaya yang aku berikan untuk sedikit membantu mengurangi tampias air hujan mengenai tubuh mereka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Selesai mandi dan kemudian beristirahat sejenak dengan menonton TV sambil menulis tentang perjalanan hari ini. Tetapi rasa capek dan tatapan mata tiga anak yang kedinginan di luar itu mengganggu pikiranku untuk dapat membuat tulisan dengan baik. Hanya satu paragraf, itupun hanya lima baris kata-kata yang kering dan datar. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hujan turun semakin deras dan angin bertiup semakin kencang, korden berkibar-kibar ditiup angin yang menyelusup lewat pintu jendela yang terbuka. Aku keluar kembali untuk melihat apa yang terjadi dengan ketiga anak tadi. Anak-anak itu makin berdempetan di pojok kotak, dan kertas koran yang aku berikan tadi, sudah basah dengan air. Rasa ibaku memberi tekad untuk mengupayakan perlindungan kepada mereka. Rumahku tidak seberapa besar, juga tidak seberapa bagus, tetapi lebih dari cukup untuk memberi perlindungan setidaknya untuk malam ini saja. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Akupun mendekat mereka, tetapi mereka memandangku dengan penuh rasa curiga. Tetapi aku bertekad, bahwa anak-anak ini harus mendapat perlindungan dari basahnya air hujan dan dinginya udara malam. Aku tetap memberi perlindungan, apapun yang akan anak-anak itu rasakan dan lakukan atas keputusanku. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku menjangkau kotak tempat berlindung anak-anak itu dan mengangkatnya. Mereka sontak serentak bersaut-sautan menjerit berteriak-teriak, meong&#8230;meong&#8230;meong !!. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Anak kucing dalam kotak karton mie itu aku bawa masuk ke dalam rumah. </span></span></p>
<br />Posted in AVPD - 1  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sihmunadi.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sihmunadi.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sihmunadi.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sihmunadi.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sihmunadi.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sihmunadi.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sihmunadi.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sihmunadi.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sihmunadi.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sihmunadi.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sihmunadi.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sihmunadi.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sihmunadi.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sihmunadi.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sihmunadi.wordpress.com&amp;blog=4256814&amp;post=79&amp;subd=sihmunadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sihmunadi.wordpress.com/2009/02/07/tiga-anak-itu-menatapku-tajam-tajam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1018d097b8b86bec7ea82e966f127152?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sih munadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
