Cerita Tentang Perkawinan


Ditikam Suami Istri Tewas (Kompas 2 september 2008).
Cemburu sms mesra, gadis belia dibunuh pacar ( Tempo 1 September 2008)….. Yg ironisnya lelaki (20 tahun) sudah memiliki istri. —

–Itu cuplikan 2 berita dari surat kabar yg terbit pada awal September, awal puasa ini–
Cerita tentang perkawinan adalah sebuah cerita akan kehidupan. Antara topeng muka dan Mahkota kepala ada di dalamnya. Seorang bapak yang teramat bijak layaknya pria sempurna, ternyata lelaki penuh ketakutan di hadapan dagu istrinya. Atau pula seorang lelaki yang mendapatkan keperkasaan dari teman kantornya, ternyata lelaki impoten dihadapan istrinya. ( contoh saduran dari rubrik konsultasi perkawinan ).
Aku belum mengerti bagaimana kehidupan perkawinan, aku belum pernah menikah dan hanya sekali mengalami kontak yang cukup dekat dengan wanita, -yg aku sendiri tdk pernah mengatakan itu sebagai pacaran-. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana sebuah kehidupan bersama itu. Aku tidak bersorak ketika bertemu dengannya dan juga tidak melelehkan air mata ketika memutuskan untuk berpisah. Sehingga aku tidak cukup memiliki gambaran perasaan bagaimana kehidupan bersama dalam rumah tangga dalam ikatan perkawinan.
Tetapi aku selalu mengingat kata-kata Haydar Bagir, –Aku menyenangi beliau krn mengajarkan Islam yg lebih filosofis– dalam satu kesempatan di masjid Al-Azhar, beliau mengatakan yang kurang lebih begini : “dalam kehidupan rumah tangga jika suami istri saling mencintai wajah yang burukpun dirasa manis”. Begitu juga sebaliknya.
kadang aku bertanya kepada diriku sendiri, (jika aku berkeluarga nanti),  “sanggupkah aku mengendalikan diriku ketika aku marah kepada istri, dan bersikap sebagaimana layaknya lelaki baik. “sanggupkah aku tidak menggunakan tangan untuk meluapkan kemarahan !”
Tidak ada kata-kata Makhluk Halus dan juga hewan-hewan di ragunan. Dan tidak kalah penting masih mendudukkan gelas & piring rak piring pada posisi semula.  Tentu saja aku berharap begitu. Tetapi sanggupkah ?? Semoga !.
Perkawinan memang bukan hanya sebuah janji setia dihadapan pak Penghulu dan disaksikan khalayak banyak. Karena berikutnya adalah sebuah kehidupan bersama dimana masing2 pihak segera tahu hal yang lebih mendalam hal apa yang dimiliki oleh pasangannya masing-masing. Dalam sebuah konsultasi di”curhat”kan oleh seorang wanita, kalau ternyata lelaki yang dulu sholeh dalam pendekatan & rajin sholat, ternyata sering bangun kesiangan & sholat shubuh telat. Padahal waktu PDKT alimnya minta ampun. Atau seorang lelaki setia yang menunggu sampai 7 tahun untuk menikah ternyata sdh berisitri ketika menikahinya, alhasil “sambil menunggu gadis suci dgn cinta sejati, ditemani dengan gadis suci dgn cinta yg tdk sejati” hualahhh..
Memang manusia tidak akan bisa mengetahui sesungguhnya dari pasangannya masing-2, tetapi paling tdk dgn hidup bersama sekian lama, akan segera berkurang segala Jaim-jaim yang dulu ada waktu pendekatan. Tidak setiap orang mampu menerima apa yang selama ini disembunyikan oleh pasangan masing-2. perasaan kecewa selalu ada kalau ternyata pasangan bukanlah sesosok yg dibayangkan atau ditampilkan diawal-awal jumpa. Tetapi apa boleh buat perjanjian sdh dibacakan, mundur kebelakang bisa jadi merupakan hal yang memalukan.   Dan harus tetap diterima dengan apa yang sekarang ada.
Perkawinan itu seperti pencampuran 2 unsur dalam percobaan reaksi kimia. Unsur baik + unsur baik belum tentu menghasilkan hal yang baik. Unsur keras + unsur keras belum tentu menghasilkan keras. Natrium + Clhorida menghasilkan garam dapur. Reaksi antara Oksigen dan Hidrogen, 2 unsur yang sama2 mempunyai sifat membakar justru menghasilkan air yang layak kita minum sehari2. Semacam itu pula hasil perkawinan antar umat manusia. Orang baik dengan orang baik malah saling menikam dikelak kemudian hari.
Aku antara salut dan sekaligus mencemooh dengan keberanian seorang lelaki yang mengaku sebagai seorang polisi untuk merayu seorang guru TK, setelah sekian lama pacaran dan mendapatkan kegadisan si wanita dan si wanita setelah itu menuntut menikah, barulah ketahuan kalau ternyata di “polisi” adalah tukang bakso keliling. Dalam contoh yg lain seorang penjual nasi goreng mengaku sebagai mahasiswa Trisakti utk menggaet karyawati dan yg akhirnya dibunuh.
Terus terang aku tidak punya nyali untuk mengaku2 menjadi “orang besar” utk menggaet seorang gadis yang aku harapkan. Aku sendiri tdk berani meminjam mobil utk bergaya ke rumah gadis yang aku harapkan, selain aku tdk lancar berkendara, ada perasaan malu utk sekedar pamer utk dikira milikinya. Aku malah lebih sering make motor aja, dengan resiko janjian menjadi batal. Atau malah pergi ke suatu tempat dan diantar bapaknya.
Aku malah ketakutan kalau hal semacam itu menjadi bahan hinaan yg akan merendahkan martabatku seumur hidup. Aku lebih memilih tampil apa adanya dgn resiko seseorang yg diharapkan tdk tertarik. Tetapi aku toh tetap optimis ada gadis baik yg tetap akan menerima diriku bagaimanapun apa yang aku tampilkan selama ini.
Makanya aku salut dgn keberanian mereka yg mengaku2. resiko akan dikenang seumur hidup sebgai bahan ledekan.
Ada cerita dari teman kantor (yg sdh senior dan sekarang dah pensiun) mengenai temannya. Waktu PDKT sama istri (dulu calon) dia mengaku sebagai orang yang pernah main film bersama rhoma irama. Dan ini yg diceritakan kepada calon istrinya. Memang sih benar, gak bohong kalau si lelaki pernah di sorot dalam film Rhoma, ketika Bang Rhoma lagi nyanyi di Panggung dan si lelaki ini di sorot sebagai seorang penonton yg menonton Bang Haji manggung. Kabarnya sampai sekarang kalau bertengkar si Istri membawa2 cerita itu dan meminta suaminya untuk mengajak bang rhoma mampir.
Memang sih tanpa bumbu “Boong Dikit” tampaknya seorang lelaki tdk menarik dihadapan wanita. Benarkah ??? Ya palingtidak, dipoles dikit deh supaya tampak lebih tampan.

–maaf-maaf kok tulisanku sampai disini ya, padahal aku tadi mau menulis tentang kata-kata haydar bagir itu, tetapi dari sisi sebaliknya (ketika seorang memandang pasangannya sebagai seseorang yg tdk menarik walaupun bagus rupa), tetapi ya sdh ternyata melenceng tulisanku dan mau dihapus kok sayang juga —

One response to “Cerita Tentang Perkawinan

  1. Ah kamu…bisa aja. Aku menikah waktu itu kayaknya gak pake basa-basi, wong prosesnya Mei ketemu, Agustus dilamar, September menikah. Memang banyak perempuan matre sekarang, tapi banyak juga teman-temanku yang masih menghargai kebersamaan….(sama-sama miskin maksudnya ha-ha-ha) Yang terpenting adalah komitmen untuk “saling”….. dan aku telah membuktikannya dalam perjalanan perkawinanku, sampai pada hidupku di titik nol. Lelakiku setia di sampingku, semoga Tuhan selalu menjaga, amin.
    Jadi….kapan kamu akan melamar perempuanmu??? Hik, kutunggu beritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s