Harapan Bangsa


Harapan Bangsa

Melihat seorang anak, dengan menggunakan “Ces” alat yang terbuat dari besi kawat baja yang dibengkokkan membentuk celurit tetapi hanya  baja yang dilancipkan. Diaisnya bak sampah demi bak sampaj dan tong sampah demi tong sampah disetiap ruas jalan perumahan dilaluinya. Satu demi satu dikumpulkannya setiap barang sisa yang dianggapnya masih bisa digunakan dan masih memiliki harga di hadapan tengkulak. Dengan begitu satu hidup di depan matanya dapat tersambungkan.
Ada sebuah perasaan sedih ketika melihat anak oleh sebuah keadaan harus meninggalkan bangku sekolah dan terpaksa menghidupi diri dengan melakukan apapun untuk memberi suapan bagi mulut yang menganga lebar-lebar. Saya membayangkan sebuah jarak yang teramat jauh bagi dirinya untuk menggapai sebuah keadaan dimana sebuah kenikmatan duniawi dapat tercapai di kelak kemudian hari. Walaupun tentu saja relatif sifatnya.
Berlalu dari hdapanku, anak itu menampakkan punggungnya. Tertulis di punggung kaos nama sebuah sekolah dasar dari sebuah tempat di pesisir utara pulau jawa.
Kaos kumal dengan timbunan daki dari anak itu telah melambungkan sebuah ingatanku akan sebuah kaos sekolah dasar yang aku kenakan ketika aku berolahraga dulu kala.
kaos seragam olahraga SD yang aku kenakan ketika masih sekolah dulu di SD N Cawas I di Klaten.
Di kaos olah raga seragam SD-ku waktu itu, dengan sebuah tulisan di punggung belakang sebuah cita-cita tinggi yang bukan main-main maknanya. “HARAPAN BANGSA” begitulah tulisan yang tertera di punggung secara turun termurun dan entah dimulai sejak kapan, dan akupun tidak memperhatikan lagi, apakah tulisan dipunggung itu masih dipergunakan sebagai ciri khas atau tidak.
Harapan Bangsa !, sekali lagi sebuah kata-kata yang bukan main-main. Tetapi sudah kah anak-anak kecil yang mengenakannya dan dengan kaki-kaki telanjang berlari-lari keliling lapangan sebelum bersenam atau sepak bola itu sekarang masih ingat dan mewujudkan cita-cita itu ?
Konon SD-ku merupakan SD tertua di seluruh kecamatan Cawas, ketika masih bernama sekolah rakyat jaman dulu. Sekolah itu memiliki sejarah setara dengan sejarah Cawas itu sendiri. Jika benar maka tentu saja dari awal berdirinya dulu telah menghasilkan sekian alumni dengan beragam aktivitas yang kini di jalani dan jabatan yang kini disandang.
Aku tidak terlalu tahu banyak alumni siapa yang memiliki nama besar, tetapi yang jelas kalau dilihat dari nama-nama pejabat di Republik ini banyak diantaranya berasal dari Klaten dan sebagaian diantaranya dari Cawas. Artinya sangat memungkinkan mereka alumni SD tempatku sekolah.
Akhir tahun 70an pemerintah orde baru menggeber pertumbuhan sekolah, dengan membangun berbagai sekolah di tingkat kelurahan di kecamatan Cawas. Banyak SD Inpres didirikan, begitu juga dgn SMP dan SMA. SD Cawas I yang dulunya merupakan SD dengan sebaran murid yang luas di kecamatan, kemudian menyempit hanya menjadi sebuah SD di lingkup 5 RW yang mengitari SD tersebut saja.
Kembali lagi, sudahkah harapan besar yang disandang dipunggung itu diwujudkan ??
Sebentar dulu, harapan bangsa itu yang bagaimana ?  sebuah pertanyaan definisi aku lontarkan kepada diriku sendiri, tetapi makna yang tepat adalah sebenarnya aku menyangsikan diriku sendiri apakah telah memenuhi sebagai harapan bangsa atau belum atau malah tidak ! Sebuah pertanyaan yang aku tidak pernah mampu menjawab.

Lantas dimanakah anak-anak yang dulu dipunggungnya tergendong sebuah harapan besar itu ?
Seperti juga jargon-jargon besar kita pada umumnya. Besar di khayalan tetapi kerdil pelaksanaan. Mereka disuruh memanggul-manggul cita-cita, tanpa pernah tahu bagaimana arah dan cara untuk menujunya.
Beberapa orang diantaranya memang bisa dikatakan sebagai “dadi wong” menjadi kelas menengah, punya pekerjaan terpandang dan dihormati. Tetapi beberapa diantaranya juga  sebagai tukang ojek, pedagang mie keliling,sopir angkutan, sebagai pegawai rendahan, preman pasar. Malah seorang diantaranya sedang kebingungan mencari konsep diri, entah kemana juntrungan sebuah hidup akan di dedikasikan.
Bermacam ragam peran orang yang menyandang sebagai Harapan bangsa itu. Tetapi Tetapi yang fenomenal dalam ingatan ku justru seorang bernama Encek. Seniorita yang tergelepar di jalanan setelah butir-butir timah panas menembus dada, saat mencoba melawan polisi dalam sebuah aksi pengejaran penjahat kambuhan.
Yang lainnya biasa-biasa saja.
Di balik jalan menikung, lelaki kecil pemulung barang bekas yg dengan menggendong dari tangan kirinya karung plastik dan tangan kanan dengan ces mengayun-ayun itu pun menghilang, untuk melanjutkan sebuah perburuan akan nasib satu hari mendatang. Harapan yang besar darinya adalah mendapatkan barang yg dianggap masih berharga. tetapi sayangnya, barang-2 bekasku biasanya sdh aku titipkan pembantu utk diapasajakan, terserah. Dengan begitu tdk akan pernah ada sisa yg aku berikan utk lelaki kecil itu. Mungkin, barangkali tadi sambil melangkah pergi lelaki kecil itu menggerutu, “harapan bangsa itu… tidak bisa diharapkan !”

Sih Munadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s