Menikahlah ….


Menikahlah jika istrimu baik, kamu akan bahagia, jika istrimu jahat kamu akan jadi filsuf sepertiku, tidak ada hal yang rugi untuk melakukaannya”  begitulah sebuah jawaban yang tampak konyol tetapi maknanya mendalam sekali.  Socrates memberi jawaban atas keraguaan muridnya akan makna pernikahan.
”apakah aku harus menikah Guru ?” Begitu si Murid mempertanyakan. Apalagi kalau si murid melihat keluarga sang Guru yang berantakan, jauh dari kata Sakinah, Mawadah wa rahmah. Kalau memang hasil dari pernikahan sebuah ketidakbahagian begitu, kenapa harus menikah ?
Socrates, orang paling bijak pada zamannya itu, jauh dari kata ideal sebagai suami, yang lebih sering pergi pagi pulang malam tanpa membawa apa-apa selain kata-kata yang tersimpan di dalam kepala. Pun begitu pula, Xantipe, si Istri, juga bukan sosok ideal bagi istri, pemarah kelas hebat dan memiliki kegemaran akan mencaci maki.

Ada satu waktu ketika aku mengartikan sebuah pernikahan adalah sebuah prosesi menuju sebuah kuburan. Ketika seorang lelaki dengan penuh cita-cita bertemu dengan seorang wanita yang penuh pengharapan. Mereka berdua berjanji untuk hidup bersama dalam satu rumah, menikmati hasrat manusiawi, melahirkan anak dan membesarkannya dan kemudian mati setelahnya tanpa menghasilkan apa-apa selain hal itu.
Aku menganggap masuk ke sebuah kuburan karena sering kali aku melihat sebuah cita-cita besar yang dimiliki orang muda, tiba-tiba redup dan kemudian hanyut urusan rumah tangga sampai kemudian tua dan mati.
Karena aku merasakan hal ini, maka aku merasa bukan begitu seharusnya pernikahan dan memilih untuk tetap sendiri sampai kemudian ketika aku menemukan sebuah keadaan dimana menikah adalah sebuah kewajiban karena dari situlah sebuah kehidupan baru. Hidup baru yg bukan hanya acara sebuah pernikahan yang melelahkan tetapi yang memberi kehidupan akan cita-cita ke depan.

Tetapi ada satu waktu juga, ketika aku melihat sebuah pernikahan adalah wujud sebuah perjalanan antar 2 manusia menuju ke kesempurnaan dihadapan Tuhan. Ketika Tuhan melalui wanita menitis keindahannya kepada manusia. Ketika manusia melihat makna-makna surgawi dalam kehidupan dunia ini. Manifestasi wujud Jamaliah Tuhan. Dan melalui lelaki Tuhan menunjukkan kekuatannya ( Jalalliyah). Nah melalui pernikahan Tuhan menyatukan keindahan dan juga kekuatan di dalamnya. Pernikahan semacam ini adalah sebuah pernikahan yang sempurna.

Sekarang aku melihat pernikahan sebagai sebuah pernikahan manusia biasa, manusia yang tidak sempurna, yang berupaya untuk mendapatkan dirinya kembali dalam keadaan suci seperti fitrahnya. Pada proses ini seorang membutuhkan bantuan orang laian untuk mencapai kesempurnaan dan saling melengkapi. Lelaki membutuhkan perempuan. Tidak berupa wanita sempurna dan lelaki sempurna, tetapi wanita tidak sempurna bertemu dengan lelaki tidak sempurna. Melalui pasangannya masing-2 orang membersihkan dirinya untuk menghadap Tuhannya. Aku sadar bahwa cinta pada pernikahan bukan sebuah wujud cinta yang palingtinggi, tetapi itu sebagai wahan untuk mendapatkan sebuah cinta yang lebih tinggi lagi.
Maka kaum sufi berpendapat bahwa jalan melalui pernikahan jauh lebih berat dari pada jalan hidup selibat. Seperti kata Rumi “kalau engkau termasuk manusia pemberani, maka tempuhlah jalan Muhammad (yaitu menikah dan membersihkan diri lewat pasangan). Tapi kalau tidak, maka setidaknya tempuhlah jalan Isa.”
Berat karena kita sesungguhnya tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya pasangan kita nanti. Betul kata Socrates, pasangan pernikahan adalah sebuah perjudian. Bisa baik bisa juga jahat. Tetapi yang disadari adalah sebuah perjalanan seseorang untuk mencapai hakekat yang lebih tinggi dalam kehidupan ini.

3 responses to “Menikahlah ….

  1. Memang betul sih, menikah itu ibarat dua mata pisau. Yang mana yang akan kamu gunakan. Yang lebih berat adalah apa yang seperti dialami socrates itu. Namun semua itu akan mendewasakan kita. Pernikahan terbaik adalah pernikahan se-kufu (sebanding), baik agama, fisik, harta, budaya dan cita-cita. Kalau tidak se-kufu akan lebih panjang jalan menuju kata bahagia. Menikah adalah suatu pilihan. Nice article mas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s