Wajah Islam


Melihat berita di televisi mengenai kasus pemukulan terhadap seorang saksi AKKBB dari sidang kasus tragedi monas 1 juni, yang melibatkan organisasi Islam, kembali menimbulkan sebuah pertanyaan dalam pikiran saya mengenai wajah Islam sekarang ini.

Berdasarkan hal yang diyakini Islam adalah agama rahmatin lil alamin dan segala atribut yang indah-indah yang lain. Banyak peradaban yang terbangun baik dari era klasik sampai peradaban modern sekarang ini. Berbagai disiplin ilmu berkembang di era klasik dan kemudian tenggelam dan kemudian dicoba untuk dibangkitkan kembali di era modern sekarang ini. Intelektual-intelektual Islam sudah bukan hanya memutar tasbih sambil komat-kamit di dalam masjid, tetapi sudah turun langsung membentuk sebuah sistem kemasyakrakatan yang bercitrakan Islami.
Nah itulah yang kemudian membangun sebuah wajah Islam untuk hadir bagi manusia sebagai perwujudan Rahmatan Lil Alamin.

Tetapi Wajah Islam bukan hanya wajah orang yang tekun mengkaji text-text dan kemudian menerapkan dalam masyarakat, dan memang banyak yg berhasil.
Wajah Islam itu bukan hanya barisan manusia bersaf-saf berseragam putih-putih duduk bersila sambil terpekur khusyuk mendengarkan lelaki muda bersorban, yang  dengan kata-kata puitiknya, mampu  menuntun manusia untuk meneteskan air matanya.
Wajah Islam bukan hanya sebuah kartu ber tuliskan kata “syariah” dan pemiliknya memiliki hak untuk menarik sejumlah keuntungan berlipat ketika mengambil uang di kelak kemudian hari.
Wajah islam bukan hanya sekolah favorite berlabel nama Arab dengan uang bulanan sebesar separo gaji cleaning service.

Tetapi bagi kebanyakan orang…Apa yang disebut dengan wajah Islam, tentu juga sebuah wajah yang sehari-hari kita kenal. Sebuah wajah yang sehari-hari kita lihat.

Yakni ketika seorang melilitkan berbatang-batang bom ditubuhnya dan kemudian menghantamkan dirinya diantara kerumunan, atas nama jihad.
Juga ketika seorang Ustad mengkotbahkan  Penghalalan darah terhadap penganut keyakinan yang berbeda, atas nama kemurnian agama.
Juga ketika 21 orang kaum miskin meregang nyawa sesak nafas menunggu uluran tigapuluh ribu dari dermawan, atas nama kewajiban mensucikan hartanya.
Juga ketika terjadi Saling berebut manusia kaya menunggu giliran mendorong keranjang belanjaan di carefour, atas nama memuliakan hari kemenangan.
Atau ketika Berduyun-duyun para pengemis menggandeng saudaranya, datang dari pinggiran utara pulau jawa, dan kemudian berderet tidak beraturan di depan masjid Istiqlal. Atas nama saling berbagi.

Ternyata wajah Islam itu wajah dengan beraneka ragam permukaan, diantara satu wajah itu ada yang mulus  semulusss….. tetapi diantara nya wajah bopeng dengan benjolan jerawat disana-sini.
Masih jauh jalan untuk mewujudkan sebuah perwujduan wajah Islam yang Rahmatan Lilalamin.

 

Sih Munadi

One response to “Wajah Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s