Jakarta – Klaten pp Naik Motor Mudik


Mudik dengan menggunakan (sepeda) Motor ternyata jauh dari gambaran orang-orang yang ngeri melihatnya sebagai sesuatu hal yang memberatkan. Begitu ada pertanyaan dari teman-teman tentang mudik naik apa, rata-rata mereka tertegun dan bertanya balik, “naik motor ?” kata-kata teman-teman meminta kepastian.

Mula-mula aku biasa saja menjelaskan, tetapi lama-lama jengah juga memberi penjelasan. Sehingga pada satu kesempatan ketika ada teman lagi yang bertanya aku langsung bertanya balik, “memangnya kenapa ?” Mungkin aku “salah tempat” kalau aku menggunakan motor untuk mudik. Mungkin juga karena aku berada di tempat orang-orang mapan yang menggunakan mobil untuk hilir mudik kesana kemari dengan berbagai tujuannya. 

Segera setelah itu aku ganti yang nerocos,

“apakah dalam pikiranmu dengan mudik naik motor ? Jika kamu katakan naik motor itu hanya cara yang digunakan orang miskin, aku katakan aku memiliki uang yang lebih dari cukup untuk membeli tiket naik pesawat terbang garuda ke Jogja dan setelah itu naik taksi ke Klaten. Jika naik motor Jakarta-Klaten adalah jarak yang jauh untuk naik motor, aku katakan Jarak Jakarta-Klaten adalah jarak pertengahan yang pernah aku tempuh dengan naik motor, masih ada jarak yang lebih jauh lagi. Jika naik motor dikatakan capek dalam perjalanan, aku katakan bukan hanya naik motor aja yang membuat capek, naik mobil, bus umum dan kereta api juga membuat diri kita jadi capek. Dan harus tahu juga bahwa sepanjang perjalanan banyak posko-posko lebaran yang didirikan oleh beragam institusi dengan berbagai tujuan. Posko itu yang bisa kita gunakan untuk beristirahat selama perjalanan. Jika…jika… ah males juga akhirnya menjawab pertanyaan orang-orang kaya. Biar saja mereka menjawab pertanyaan mereka masing-masing. Aku hanya pingin menulis senangnya naik motor ke Jakarta-Klaten saja.

Karena pada hari Minggu 28 September maih masuk kerja sampai malam, maka aku baru bisa berangkat pulang kampung hari Senin paginya. Sebenarnya bisa juga malam itu langsung cabut langsung dari kantor, karena memang pada malam hari katanya perjalanan tidak seramai siang hari dan udara juga tidak begitu panas. Tetapi karena alasan badan capek setelah seharian bekerja, apalagi dengan kondisi malam hari dengan kilat lampu mobil yang seringkali menyilaukan penglihatan, aku putuskan untuk berangkat Senen pagi-pagi setelah sholat subuh.

Berangkat dari Depok dengan menyusuri jalur jalan Citayam Depok, pukul 5 tepat dari rumah, nuansa mudik belum terasa benar. Masih terlihat banyak orang yang pergi pagi-pagi untuk pergi berangkat kantor untuk bekerja. Memang akan tampak perbedaan sehingga mudah diidentifikasi mana pemudik dan mana pekerja kantoran. Kalau biasanya pergi kerja hanya menggunakan satu tas kerja, nah kalau pergi mudik, akan menggunakan berbagai perlengkapan segambreng yang ada  di belakang motor. Pokoknya tampak dari tampilan antara mau mudik atau mau pergi ke kantor. Dengan kecepatan yg tidak terlalu kencang, jarak depok ke kalimalang ditempuh dlm waktu 45 menit. Sebenarnya bisa dipercepat hanya dengan waktu 20 menit saja. Begitu masuk kalimalang nuansa mudik baru terasa. Kalimalang adalah jalur utama non tol utk menuju arah pantura. Merupakan jalur utama bagi pengendara sepeda motor untuk menuju arah Cikampek.

Setelah sampai Cikampek jalan menjadi sangat longgar. Kecepatan motor bisa dipacu dengan kecepatan 100 km/jam atau lebih. Mungkin karena arus mudik telah melewati masa puncak pada hari sabtu dan minggu kemarin sehingga jalan pantura sepanjang Cikampek – Cirebon benar nyaman untuk dilalui. Sehingga sudah tiba di pertigaan Palimanan (pemisah antara arah Bandung dan Jateng) pada pukul 10.30 atau lima jam perjalanan dari Rumah.

Kemacetan baru terjadi setelah sampai di pintu keluar tol Kanci. Kemacetan parah terjadi lebih dari 30 km sampai ke Brebes di titik pisah antara jurusan semarang dan Purwokerto. Sehingga waktu tempuh antara Kanci dan Pejagan bisa mencapai 2 jam lebih. Kalau menggunakan mobil waktu tempuh itu bisa mencapai 4-5 jam. Pukul 13.30 baru bisa keluar dari kemacetan tersebut.

Setelah sampai brebes keluar dr jebakan macet, kondisi jln menjadi sangat lancar, motor bisa kembali dipacu dgn kecepatan 100 km/jam atau lebih. Sampai ke Semarang di perlimaan depan musium Ronggowarsito pada capaian jarak 550 km dan pada waktu pukul 17.45. Waktu tersebut dicapai setelah istirahat makan soto Khas Semarang di Petarukan Pemalang, selama 1 jam. Dan berangkat dari rumah makan tersebut pada pukul 15.30 setelah sholat ashar.

Dengan menggunakan Kawasaki Ninja type Standard, sebenarnya ada perasaan takut juga ketika aku memacu motor di kecepatan diatas 100 km/jam, tetapi dengan godaan jalan yang lurus dan lebar tanpa kemacetan seperti di jakarta, membuat gatel juga perasaan untuk mengikuti jalur cepat di pacuan. Ada juga semacam keinginan untuk memecahkan rekor dengan sampai rumah lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya ketika ada motor dengan kecepatan sebanding yang menyalip, aku sebenarnya tidak panasan untuk mengikuti laju mereka, tetapi aku hanya ingin menyesuaikan ritme kecepatan agar tidak melaju sendirian. Ingat ; dengan berjalan bersama perasaan menjadi tidak capek, seperti kalau kita lari pagi bersama teman-teman saja.  Dan aneh, aku tidak pernah sahur selama bulan puasa ini, tetapi aku merasa daya tahanku begitu prima. Selain hanya mengisi bensin yang menyebalkan, aku hanya sekali beristirahat untuk makan soto di petarukan. Itu saja.

Ternyata dengan laju kecepatan yang konstan di level tinggi, membuat bensin menjadi lebih hemat, dengan total jarak tempuh 690 km dari Jakarta menuju Klaten, cukup hanya mengisi bensin dengan total pengeluaran Rp 120.000,– dan bensin masih terisi cukup waktu sampai di rumah. Bandingkan aja dengan naik kereta dari yang mencapai nilai Rp 400.000,– dari Jakarta ke Solo.

Selain dengan segala resiko yang harus ditanggung dengan menggunakan motor, mudik dengan menggunakan motor sangat menyenangkan. Kita bisa leluasa mengatur waktu dan lebih mudah untuk menghindar dari jebakan kemacetan. Walaupun ada kemacetan masih bisa melaju diantara sela-sela mobil yang berhenti atau berjalan tersendat.

Sayangnya, banyaknya pemudik, yang berarti banyaknya konsumsi bahan bakar, ternyata menjadi kesempatan bagi pengelola pom bensin di pantura untuk berbuat curang dengan mengurangi takaran. Waktu mengisi bensin di Loh Bener, dan capaian speedometer sudah menunjukkan angka 200an km. Maka sudah waktunya untuk mengisi bensin. Tetapi sayang stasiun pompa bensin melakukan kecurangan. Tangki bensin yang masih berisi bensin cukup banyak ternyata setelah diisi penuh total rupiah yg dikeluarkan tetap Rp 40ribu juga. Padahal kalau tangki dalam kondisi kosong, jumlah rupiah yang dikeluarkan segitu juga. Hal yang sama nanti juga terjadi di daerah Brebes ketika arus balik ke Jakarta.

One response to “Jakarta – Klaten pp Naik Motor Mudik

  1. Tahun ini mudik tidak Pak???, kalau mudik bisa bareng dong…saya juga mau mudik ke Klaten…Salam,
    Wiji subagya Wonosari Klaten

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s