Tiga anak itu menatapku tajam-tajam.


Tiga anak itu menatapku tajam-tajam. Kedatanganku mengusik ketenangan dan menghadirkan ketakutan bagi mereka. Mereka duduk dengan kaki ditekuk, saling berdempetan dan saling berebut tempat duduk di paling pojok, menghindari kedatanganku. Tubuh mereka lemah dan tampak kurang makan.

Kasihan aku melihat anak-anak itu dan tidak kuasa menatap matanya berlama-lama. Mereka masih tetapi dalam seusia segitu dia harus berjuang untuk tetap bertahan hidup demi mereka sendiri tanpa perlindungan atas rasa ketakutan yang cukup dari ibu, apalagi bapaknya. Induk yang tidak bertanggung jawab. Aku ingin tahu di mana ibu mereka, tetapi aku tidak tahu bagaimana mengucapkannya.

Kasihannn….

Aku geram kepada ibu mana yang dengan tega mentelantarkan anak-anak mereka. Tega meninggalkan mereka bersama dinginnya malam. Anak-anak ini seperti dipaksa untuk berjuang bertahan hidup tanpa perlindungan dari ketakutan atas ancaman apapun yang datang dari sekelilingnya.

Betapa banyak anak-anak yang dikorbankan atas nama kenikmatan sesaat dan kemudian untuk menghindar dari rasa malu, mereka itu dibuang, ditelantarkan bahkan tidak sedikit yang dibunuh. Mereka bermain-main dengan setitik air yang kemudian dengan sentuhan tangan Tuhan kelak menjelma menjadi makhluk hidup yang bernama. Tetapi mereka tidak mampu untuk mempertanggungjawabkannya.

Dalam perjalanan pulang pergi naik kereta Depok-Jakarta, aku sering kali mendapatkan anak-anak seperti itu di setiap stasiun yang aku lewati. Kasihan, Iya. Tetapi apa yang aku lakukan ?, Tidak ada !.

Badanku terasa capek, setelah menempuh serangkaian perjalanan jauh. Sarapan pagi di Jember, makan Soto Ambengan di Genteng Kali Surabaya selepas dzuhur dan beruntung bisa mencapai Jakarta sebelum pukul 22.00, untuk kemudian makan mie Goreng di bawah stasiun Gondangdia dan naik kereta terakhir menuju Depok. Terkadang aku merasa, apa yang aku lakukan sebuah perjalanan sia-sia yang tidak ada gunanya, walaupun sebenarnya apa yang aku lakukan bernilai ekonomi dan bertajuk menghabiskan libur awal tahun ”ala gua”. Tetapi ya sudahlah setiap orang mengalami perjalanan mencari jati diri yang aneh dalam hidupnya.

Sesampai di Stasiun Depok, mendung tebal yang dari tadi sudah menggelayut di langit, mulai menjatuhkan titik lembut-nya. Aku berusaha sesegera mungkin sampai rumah sebelum hujan turun, dan dapat beristirahat yang cukup untuk mempersiapkan diri masuk kantor kembali besok paginya. Beruntung sudah sampai rumah sebelum hujan turun dan mendapati ketiga anak itu sudah berada di pojok emperan rumah, terkena sorot lampu motorku. Mereka berkumpul berdempetan dalam sebuah kotak. Rumahku, sebuah rumah yang tidak berpintu pagar, sehingga leluasa bagi siapapun dan apapun, kalau mau, untuk berteduh atau bertujuan apapun di emperan rumah.

Rintik hujan, yang sepertinya menunggu aku sampai ke rumah, turun semakin deras. Tampias air ditiup angin mulai membasahi lantai keramik di emperan, tidak terkecuali juga kotak tempat anak-anak itu berlindung. Aku kasihan, tetapi tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya memandang kepada mereka, yang mereka balas dengan pandangan juga. Tanpa kata tanpa suara.

Kemudian aku berbalik badan meninggalkan mereka. Tidak tega memang tetapi apa boleh buat, aku lebih memilih masuk rumah dan menutup pintu setelah memasukkan motor. Hanya kertas koran terbitan Surabaya yang aku berikan untuk sedikit membantu mengurangi tampias air hujan mengenai tubuh mereka.

Selesai mandi dan kemudian beristirahat sejenak dengan menonton TV sambil menulis tentang perjalanan hari ini. Tetapi rasa capek dan tatapan mata tiga anak yang kedinginan di luar itu mengganggu pikiranku untuk dapat membuat tulisan dengan baik. Hanya satu paragraf, itupun hanya lima baris kata-kata yang kering dan datar.

Hujan turun semakin deras dan angin bertiup semakin kencang, korden berkibar-kibar ditiup angin yang menyelusup lewat pintu jendela yang terbuka. Aku keluar kembali untuk melihat apa yang terjadi dengan ketiga anak tadi. Anak-anak itu makin berdempetan di pojok kotak, dan kertas koran yang aku berikan tadi, sudah basah dengan air. Rasa ibaku memberi tekad untuk mengupayakan perlindungan kepada mereka. Rumahku tidak seberapa besar, juga tidak seberapa bagus, tetapi lebih dari cukup untuk memberi perlindungan setidaknya untuk malam ini saja.

Akupun mendekat mereka, tetapi mereka memandangku dengan penuh rasa curiga. Tetapi aku bertekad, bahwa anak-anak ini harus mendapat perlindungan dari basahnya air hujan dan dinginya udara malam. Aku tetap memberi perlindungan, apapun yang akan anak-anak itu rasakan dan lakukan atas keputusanku.

Aku menjangkau kotak tempat berlindung anak-anak itu dan mengangkatnya. Mereka sontak serentak bersaut-sautan menjerit berteriak-teriak, meong…meong…meong !!.

Anak kucing dalam kotak karton mie itu aku bawa masuk ke dalam rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s