Khayalan dalam Kesempitan


Suatu hari menjelang sore di akhir bulan Mei 2004. Di dalam kereta rel listrik ekonomi arah Bogor yang datang terlambat. Gerbong sudah dipadati penumpang, meskipun kereta baru sampai di stasiun Gondangdia. Tidak usah berharap tempat duduk, berdiri dan mendapatkan besi untuk berpeganganpun sudah tidak bisa. Hawa pengap dengan Aneka aroma bau bercampur menjadi satu menjadi aroma khas yang tidak didapatkan selain di dalam kereta ini. Tidak ada beda lagi antara minyak wangi dan bau kecut asam cuka. Hanya angin yang menyelusup masuk melalui kaca jendela yang pecah, menjadi penghibur atas pengap-nya perjalanan ini.

Depanku sebelah kiri, seorang wanita dengan paras yang lumayan juga. Sedang di depan sebelah kanan, seorang lelaki setengah baya pegawai Pemda. Di antara kedua orang inilah aku berdiri persis di belakang mereka. Sebentar-sebentar aku melihat jam tangan yang digunakan lelaki pegawai Pemda itu, dan mengukur terasa lambatnya perjalanan kereta ini. Mampu tidak kereta ini sampai di UI sebelum pukul 5 ?.

Sore hari ini adalah perkuliahan pak Kurnia, dosen psikologi SDM, yang terkenal angker. Pak Kurnia sudah mensyaratkan pukul 5 sore batas keterlambatan, lebih dari jam itu, dianggap tidak masuk. Sanksi yang diancamkan berat yakni langsung didrop tidak lulus, jika titip atau dititipi absen, sehingga mahasiswa juga tidak berani berbuat curang itu. Aku sudah 5 kali absen, sudah memenuhi 30% batas ketidakhadiran. Itu batas maksimal dan hanya perlu sekali lagi ketidakhadiran, untuk secara otomatis mengulang tahun depan. Jika itu terjadi, dan aku tidak lulus mata kuliah ini, aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan konsentrasi kerja di Telkom, tanpa harus mencuri waktu, pergi kuliah diam-diam. Tetapi ada kata-kata Pak Kurnia, yang masih teringat sampai sekarang, “Siapa yang benar-benar berusaha sekuat tenaga pasti akan bisa!”. Katanya sambil menyeka buih putih yang di sekitar bibirnya. Man jada wa jadda, seperti kata novel. Maka mengingat itu pula, aku memaksa diri masuk, ketika kereta rel listrik ekonomi tujuan Bogor yang sarat penumpang berhenti di Gondangdia. Sebagaimanapun penuhnya.

Pukul setengah lima, kereta sampai ke Tebet. Para penumpang masuk lagi dan memaksa penumpang yang sudah di dalam untuk lebih berdempetan. Datangnya penumpang baru itu, membuat aku terpaksa menggeser titik berdiriku sedikit ke kiri. Dan terjadilah posisi sedemikian rupa sehingga aku berdiri persisi di belakang wanita bertampang kantoran itu. Karena posisinya sedemikian rupa tak ayal pikiran mesum sempat menggoda. Detak jantung menjadi tidak beraturan, apalagi kalau si wanita ini bergerak…. syaraf lelaki tersendak sampai ke otak.

Untungnya ( atau ruginya ? ) di stasiun Cawang, kereta berhenti, penumpang kembali masuk dan dorongan penumpang yang baru masuk menggeser aku lagi sehingga sekarang tidak lagi “sedemikian rupa”. Sehingga pikiran mesum tidak lagi membayangi pikiran dalam diam. Berbarengan dengan itu pula, terasa empuk-empuk menempel di punggung. Terdengar lenguhan akibat sakitnya himpitan, dan itu adalah lenguhan wanita di belakangku.

Kembali hasyrat kelelakianku dipermainkan. Otak mesum kembali diaduk, Aku mengatur nafas merasakan sentuhan empuk di punggung. Aku mencoba mengalihkan pikiran, dan mengingat empuknya plendungan juga seperti itu. Tetapi aku hanya lelaki kelewat biasa dan hasrat kelelakian mengalahkan manipulasi logika konyol itu. Sehingga khayalan-khayalan sensual tetap menari-nari, di antara sakitnya sekujur tubuh karena saling gencet dan sesak nafas. Kata orang yang biasa naik kereta ekonomi, itulah sebuah kenikmatan dalam kesempitan. “Nikmati saja !” seorang teman pernah berkata kepadaku begitu. Aku hampir menyetujui perkataan teman itu, hal semacam ini belum tentu bisa didapatkan setiap hari atau setiap orang. Tetapi ingatan akan sholat maghrib basah kuyup di kampus, membuat aku harus berfikir ulang. Enake sak klenteng, rekasane sak rendeng. Kenikmatannya sesaat, susahnya berkepanjangan. Aku memang bukan sebaik-baiknya orang Islam, tetapi aku tidak pernah meninggalkan sholat dengan sengaja.

Lama aku dipermainkan hasyrat kelelakian, apalagi wanita di belakangku itu seperti sengaja menyentuh-nyentuh benda lunak itu ke punggungku. Atau paling tidak, tidak ada upaya dari wanita itu untuk menjaga jarak antara benda lunak miliknya dengan punggungku. Selama perjalanan itu ada pertentangan hebat antara ”dinikmati saja” dan bayangan sholat Maghrib basah kuyup di kampus. Air bersih, untuk membasahi rambut sebasahnya, memang bisa diusahakan di kamar mandi/toliet kampus, kaos dalam bisa difungsikan sebagai handuk, dan sabun-sampo tidak seberapa penting, tetapi bagaimana menjawab pertanyaan teman, ”kok rambutnya basah kuyup, khan bukan musim penghujan ?” Aku tidak mampu menjawab pertanyaan itu dengan tenang, tanpa rasa bersalah.

Untungnya (atau ruginya ?) kereta mencapai Lenteng Agung. Aku menjadi lega, nafasku tidak lagi tersenggal-senggal. Himpitan penumpang yang begitu rapat, memaksa harus bersiap lebih awal, agar mampu keluar di stasiun UI. Kini pikiran bisa dialihkan untuk bagaimana menembus rapatnya orang-orang. Rupanya wanita di belakangku itu, setujuan dan melakukan hal yang sama denganku. Bersusah payah, sekuat tenaga aku menyelipkan diri, menyibakkan satu demi satu penumpang yang berdempetan. Akhirnya di stasiun UI aku berhasil juga keluar gerbong. Aku menghela nafas panjang, setelah merasakan sesak nafas sepanjang perjalanan.

Begitu juga dengan wanita itu. Wanita itu melangkah keluar dengan tangan kiri mendekap tas punggung yang digendong di depan dada, dan tangan kanannya di depan muka, menggenggam dan menggelantung di bawahnya plastik kresek warna hitam.

Plastik kresek hitam ?. Plastik kresek warna hitam dengan benda kenyal di dalamnya ?
Jadi ???

Bergegas aku berjalan menuju kampus, karena sekarang sudah pukul 05.00 sore, lebih sedikit.
–end–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s