Pada Sebuah Perjumpaan


Pada suatu akhir pekan di sebuah café di Jakarta, menunggu seseorang. Dia dulu gadis cantik yang aku kenal saat awal-awal kerja di Jakarta, di tahun 96an.  Sebenarnya aku malu ketika dirinya mengajak bertemu, jika mengingat sikap yang tidak dewasa yang aku tunjukkan ketika mencoba mendekati dia dulu. Diantara mabuk kepayang dan ketidakmampuan untuk mengungkapkan dengan baik, itulah kemudian terjadi tindakan di luar akal kewarasan, yang memalukan dan menggelikan. Puncak-nya adalah kemarahan dia, ketika aku mengirim surat cinta via fax ke kantornya.

Benar kata orang, cinta telah membuat lelaki menjadi seniman. Suara hati yang tidak terungkapkan menjelma menjadi kata-kata mutiara yang menghiasi buku-buku, file-file komputer, dinding kamar, bahkan halte-halte, terutama jalan antara Senen dan Blok M.

Ketika di UI di mata kuliah Ilmu Budaya, rangkaian kata-kata itu kemudian diiringi gitar tunggal dan didramakan di depan kelas. Aku menjadi seniman dadakan. Dosen terpukau dan memberi komentar panjang lebar. Pak Dosen memberi selamat seraya berkata, “ini karya orisinil yang selaras dengan tujuan pengajaran saya!” Ah…. dia tidak tahu derita hati ini.
***
Dirinya memang gadis yang cantik dan banyak orang jatuh ahti padanya. Aku salah satunya. Sebagai orang yang baru datang dari Klaten pedalaman, perasaan rendah diri menghinggapi dan bersemayam di lubuk perasaan yang dalam. Jauh dari perkiraan semula, ternyata aku mengalami Perasaan rendah diri bukan kepalang, bahkan sampai tingkat dissorder dan memerlukan perawatan di samping stasiun kereta di pinggiran Depok bagian utara. Itulah mengapa kemudian aku kalah bersaing dengan lelaki Jakarta berebut perhatiannya.

Hati kita akan bertemu dalam sebuah perjumpaan, entah kapan !” Sebuah kalimat pendek sebagai penutup dalam sebuah draft novel yang tidak jadi, menjadi permakluman atas kekalahan dan memendam harapan akan datangnya kemungkinan, dikelak kemudian hari.

Masa-masa patah hati dan luapan kekecewaan tertuang dalam lembaran-lembaran uang kertas lima ribuan. Ditulis dengan sepenuh pengharapan, agar uang itu akan sampai ke tangannya dan membaca ungkapan perasaanku itu. “sebulan waktu yang teramat lama untuk mendapatkan gadis-gadis, tetapi seabadpun waktu yang singkat untuk melupakan senyum manismu” kalimat yang tertulis dalam uang kertas lima ribuan itu. Memang, aku jauh dari tipikal lelaki idaman, tetapi nama besar Telkom telah mengangkat derajatku lebih tinggi, Sehingga tidak susah untuk mendapatkan pengganti. Dan memang begitu nyatanya.
(Note : Tetapi itu kata-kata gombal juga, karena dengan bergantinya waktu dan datang perginya orang-orang disekitar kita, tidak perlu waktu begitu lama untuk menganggapnya sebagai orang biasa-biasa saja. Dasar lelaki !! )

**

Dan “akan bertemu dalam sebuah perjumpaan, entah kapan!” itu, sekarang telah datang. Facebook-lah makelarnya.

“Kamu sekarang lebih gemuk dan tampak lebih makmur. Tentu disukai gadis-gadis sekarang. Begitukah.?!” Dia memuji fotoku di facebook, yang menggunakan batik saat peringatan hari batik nasional. Yang mengingatkan akan kata-katanya, “harusnya berat badanmu ditambah lima kilo lagi !!” dulu di waktu itu. Ah seandainya waktu itu aku seperti sekarang ini…

Belasan tahun tidak bertemu, Seperti apakah dia sekarang ? Entahlah. Di facebook memang banyak foto, tetapi hanya foto anak-anaknya dan keluarga, tanpa ada satupun foto dirinya.

Penasaran. Semalam aku membongkar-bongkar kembali tumpukan majalah tempo edisi lama, mencari gambar foto Ria Irawan sedang berdiri membaca buku. Gambar itu yang dulu aku gunakan membandingkan kecantikannya dan sekarang akan aku gunakan untuk mereka kembali bagaimana perwajahannya kira-kira sekarang. Tetapi sayang majalah Tempo tidak berhasil ditemukan. Mungkin ikut dalam majalah yang aku sumbangkan beberapa waktu yang lalu.

**
–delete–
**

Aku membenci pertemuan itu. Pertemuan yang telah membakar habis figure wanita sempurna yang telah dilukis bertahun-tahun di dalam bawah alam sadarku.

Pertemuan ini bukan hanya menyita waktu tetapi juga menghilangkan khayalan sempurna tentang seorang wanita idaman. Tidak lagi aku lihat senyumnya, yang dulu memaksa aku menulis surat malam-malam karena dan tidak bisa tidur, tetapi kini terlihat bekas telapak tangan dipipinya. Tidak ada lagi daya tarik seperti dulu, sekarang bertimbun banyak lemak yang melingkari perutnya dan tampaknya sakit-sakitan.

Aku juga tidak mampu banyak bicara, sama seperti ketika aku bertemu dengan dirinya dulu, dan sama-sama bingung apa yang harus aku katakakan. Semua tampak kikuk.

end

One response to “Pada Sebuah Perjumpaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s