Kalah Taruhan melawan diri sendiri


Tidak makan Pak !?, puasa ? ” tanya teman di kantor ketika mengajak makan siang bersama selepas sholat Jumat.

“Ya semacam itulah .. !” Jawabku memberi pembenaran atas peneguhan pertanyaannya.

“Wah rajin sekali, lha memang Jumat-Jumat puasa apaan ? khan katanya tidak boleh puasa di hari Jumat aja !!”

“Siapa bilang tidak boleh, puasa boleh dilakukan kapan saja termasuk hari Jumat tanpa hari yang lain sebagai penyambungnya !” aku kemudian berkilah, sambil mengutip pendapat seseorang ulama, sebagai pembenaran atas sikapku.

Setelah mereka pergi makan dan meninggalkan aku, terpikir juga…sejak kapan aku rajin puasa ???. Dalam hal sesungguhnya, aku memang termasuk orang yang jarang berpuasa sunnah. Bisa dihitung dengan bilang jari untuk puasa sunnah Senin Kamis, apalagi puasa Daud. Sebenarnya memang aku tidak puasa pada hari jumat ini, tetapi hanya tidak makan siang saja.

**

Filsafat adalah mencari jawab atas pertanyaan mengapa manusia tidak bunuh diri ! ” begitulah Ustad Hussein Shahab mengutip kata-kata Albert Camus tentang filsafat di kuliah Filsafat Islam di Muthahari dan Pusat Studi Jepang UI. Albert Camus mengungkapkan keheranannya bagaimana manusia selalu mengulang-ulang pekerjaan yang sama setiap harinya.
Diceritakan mengenai seorang manusia yang bersusah payah mendorong sebuah batu besar dari bawah bukit untuk naik sampai ke puncak bukit. Sesampai di puncak bukit, batu dilepas dan digelindingkan lagi ke bawah. Setelah di bawah, batu itu didorong lagi ke atas, dan kemudian digelindingkan lagi ke bawah, demikian seterusnya dan berulang-ulang, sampai kemudian manusia itu tua dan mati.

Begitu pula yang kita alami setiap hari, kita juga melakukan hal yang sama secara berulang-ulang. Pagi selalu diawali dengan Bunyi alarm yang menyalak dan disusul kumandang adzan shubuh. Mandi, sholat subuh dan sampai kemudian pukul 6 kurang 5 menit, membuka pintu untuk pergi ke stasiun Citayam. Naik kereta pukul 6 lebih 10 menit, dan tiba di kantor sekitar jam 7.00. Di Kantor kemudian kita menerapkan hasil pendidikan kita dengan menjadi juru tulis dan tukang telpon, kutak-katik di depan komputer seharian dan sampai sore hari pergi lagi ke stasiun Gondangdia pulang ke Depok. Pulang ke rumah, tidur. Begitulah ritme yang sama setiap hari, berulang-ulang.

**

Kereta Bojong, ( sudah Gede, Ekspres pula!), bukan kereta yang menggunakan kartu abonemen, dan tidak ada penumpang yang mendapatkan jatah tempat duduk di bangku tertentu. Penumpang harus berebut tempat duduk di mana saja dia dapat. Namun begitu, posisi tempat duduk para penumpang tidak banyak berubah dan selalu di gerbong yang sama setiap harinya.

Naik dari stasiun Citayam, aku selalu berebut berdesakan masuk dengan orang yang sama. Di dalam keretapun, berdiri dihadapan orang-orang yang sama setiap harinya. Hampir selalu di depan Ibu pegawai Pegadaian yang duduk sambil setengah terkantuk-kantuk, dan aku berdiri membaca koran di depannya. Seperti aku, ibu ini nanti turun di Gondangdia.

Di Stasiun PondokChina, kereta berhenti untuk menaikkan lagi penumpang. Penumpang inipun adalah penumpang yang sama setiap harinya. Karena aku laki-laki, yang aku perhatikan adalah sekumpulan perempuan muda, 4 atau 5 orang dalam kumpulan itu, pegawai sebuah bank di daerah Kota.. Seorang perempuan jangkung, seorang yang berkacamata, seorang dengan jilbab ( setelah pakai jilbab si mbak ini jadi kelihatan gemuk ) dan seorang lagi gak ada ciri khusus, atau karena aku tidak terlalu memperhatikan… wah kasihan. Mereka hampir selalu para perempuan itu berdiri di sekitarku. Namun begitu, walaupun berbulan-bulan berdiri di tempat yang sama, tujuan yang searah, tetapi diantara kita selalu juga saling diam tanpa kata tanpa suara dan tidak pernah bertegur sapa.

Ternyata manusia memiliki pola tindakan yang sama dan cenderung menetap untuk berada dalam situasi yang sama setiap harinya. Jelas tidak akan mudah untuk menjawab sebuah pertanyaan, “kenapa selalu berdiri di tempat yang sama denganku ?” tidak ada yang tahu pasti, bahkan oleh mereka sendiri pula. Yang pasti dengan berdiri di dekatku, mereka pasti merasa aman, karena yakin, di dekatnya bukan satu manusia yang berprofesi alternatif sebagai tukang copet atau penjahat seksual di dalam kereta.

**

Bulan Oktober yang lalu, tiba-tiba ada pikiran yang aneh-aneh melintas di kepalaku. Yakni sebuah hitungan seberapa sering sekumpulan pegawai bank ini berdiri di sekitarku ?. Dari hitungan turus di kalenderku, ternyata dari Minggu terakhir Oktober sampai Minggu ketiga November, hanya lima kali para perempuan pegawai Bank itu tidak berdiri di sampingku. Minggu terakhir aku pulang klaten jadi tidak mungkin menghitung turus statistik sampai akhir November. Wah hebat… kayak juragan minyak tiap hari selalu dikelilingi gadis-gadis.

Hampir selalu berdiri di belakangku adalah si mbak berkacamata, dengan kening selalu ada bintik keringat yang membuat bedak di mukanya tampak berantakan dan tisue di tangan untuk mengelap. Tidak ada yang terlampau istimewa, tetapi aku selalu mengenal kebiasaannya. Tiap hari dia berdiri di belakangku, membaca koran Warta Kota, setelah itu sibuk pencet-pencet meng-update status FB dan kemudian “meeting” operasional review tentang kerjaan dengan teman-temanya.

Dan di akhir minggu 3, Jumat 20 November, aku membuat taruhan untuk diriku sendiri. Lebih gampang nagih janjinya. Taruhannya jika si mbak berkaca mata itu berdiri di belakangku, aku akan mentraktir diriku sendiri makan siang sendirian di Sate Senayan depan kantor. Tetapi kalau si mbak tidak berada di belakangku, maka aku tidak akan makan siang hari ini.

Jumat itu seperti biasa aku berangkat pagi-pagi dan menggunakan pakaian yang biasanya dipakai pada hari Jumat. Tetapi ketika Naik dari stasiun Citayam, aku tidak mendapatkan hari ini sebagai hari yang biasa. Ibu pegawai Pegadaian, tidak duduk di tempat seperti biasa. Di sampingku, berdiri seorang wanita yang biasanya duduk dengan kursi lipat di dekat pintu. Dan di sekelilingku orang-orang yang berbeda, tidak seperti biasanya. Benar saja…, sesampai di Pondok China, ketika sekumpulan perempuan pegawai bank itu masuk, si mbak di sampingku menjadi penghalang bagi si mbak berkaca mata untuk berdiri di belakangku. Berselang satu orang. Harapan terakhir adalah para penumpang di UI masuk dan mendesak si mbak berkaca mata ini untuk bergeser ke belakangku. Tetapi itupun, akhirnya tidak kesampaian juga. dibelakangku sudah berdiri sekelompok lelaki dan tidak akan mungkin untuk digeser lagi.

Jadi …. Hari ini Aku kalah dan siang itu tidak makan siang.

end

2 responses to “Kalah Taruhan melawan diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s