Air Terjung Malino


Air Terjung Malino

Sekelompok anak-anak remaja, mengelilingi kubangan besar tempat air itu terjatuh. Mereka berdiri memandang tempat jatuhnya air dan dan memperhatikan air yang turun jatuh dari puncak bukit yang tiada berhenti. Gumpalan-gumpalan air yang jatuh tiada henti, terpecah menjadi butiran-butiran halus ketika terbentur dengan landasan bebatuan. Butiran-butiran halus itu, kemudian bersama angin yang bertiup mengalir dan menempel ke tempat-tempat yang dilalui. Meskipun berada dijarak yang cukup jauh dari air terjun, tidak begitu lama kemudian badan mereka menjadi basah. Dua orang diantaranya, melepas baju dan juga celana panjang, menyisakan celana pendek. Kemudian turun lebih dekat ke kubangan air, di antara bebatuan.

“Cobalah !” kata seseorang yang berdiri di atas batu besar sambil memperhatikan pijakan-pijakan kakinya agar tidak terpeleset dan jatuh di kali. Di tangannya sebuah kamera digital, yang siap untuk dibidikkan ke arah temannya itu. Dia seolah memancing keberanian kedua teman itu, untuk mendekat ke arah jatuhnya air di kubangan. Mungkin akan dipotret jika kedua temannya itu mau berendam di kubangan.

“Ahh enggak !” kata lelaki lainnya yang bertelanjang dada dan kedua kakinya terendam di dalam air setinggi betis di pinggir kubangan air itu. Dirinya hanya membungkukkan badan, menangkupkan tangan dan menciprat-cipratkan air ke dalam danau kecil itu.

Tempat dimana air terjun berakhir adalah sebuah kubangan yang tidak terlalu besar, yang dikelilingi batu-batuan besar. Tidak diketahui bagaimana kedalaman kubangan itu dan apakah batu-batu terjal yang berbahaya berbahaya atau tidak. Apakah hanya setinggi pinggang, atau cukup dalam dan mampu menelan mereka untuk selamanya. Tidak  jelas benar. Tempat itu cukup menyimpan misteri, tidak heran jika di antara mereka tidak ada yang mau mencoba membuktikan berapa kedalamannya. Mereka hanya saling pandang, tidak berani untuk mencoba membuktikan.

Dengan bentuk kubangan air terjun seperti itu, lalu dimanakah tempat orang kungkum merendam diri, yang konon akan dientengkan jodohnya bila melakukan di tempat ini ?. Tidak ada tempat yang nyaman untuk merendam diri di dalamnya. Air mengalir di sela-sela batu besar, yang hanya seukuran tubuh yang miring. Kemudian air itu mengalir ke tempat yang lebih bawah dengan turunan yang cukup curam. Pendek kata, tidak ada tempat yang longgar untuk merendam diri.

Di sebuah batu yang paling besar, di dekat turunan yang curam, aku memperhatikan tingkah polah anak-anak itu.

Pagi telah bergerak naik, sinar matahari sudah menyentuh ujung daun pepohonan. Anak-anak remaja itu merapikan baju-baju mereka dan hendak menyudahi kegembiraan bersama di air terjung ini. Sopir pete-pete yang kemarin mencarikan penginapan menelpon dan menanyakan jam berapa aku akan meninggalkan Malino menuju Makasar. Sopir itu segera menutup pembicaraan setelah aku katakan akan balik ke Makasar nanti siang.

Anak-anak itu kemudian mengenakan kembali pakaian-pakaiannya. Satu persatu anak-anak itu meninggalkan area air terjung ini dan berjalan melalui jalan setapak di samping aku duduk. Sampai kemudian orang terakhir memberi salam dan mengucapkan permisi, Sempat terbersit keinginan untuk diam-diam kungkum sepeninggal mereka, mumpung tidak ada orang yang melihat.

Tetapi untuk apa ?. Tanpa kepercayaan bahwa tempat ini adalah tempat yang memiliki karomah, akan enteng jodoh bila kungkum di dalamnya, kita hanya akan basah kuyup

Air Terjun Malino

menggigil kedinginan dan menderita gatal-gatal di sekujur tubuh.

Tetapi kenapa tida

k ?, kita akan merasakan sensasi rasa, yang menyegarkan dan menjadi bahan cerita pernah berendam di tempat yang orang menganggap memiliki k

aromah, yang tidak setiap orang melakukan.

Berendam, tidak. Berendam, tidak. Berendam, tidak. Beberapa saat, terjadi timbang menimbang keputusan, antara berendam dan tidak !

Tetapi kemudian datang pula pikiran aneh yang lain. Kalau dalam film-film horor setelah anak-anak itu pergi dan aku sendiri di air terjun itu. Tiba-tiba akan ada wanita-wanita cantik yang pergi ke air terjun itu dan kemudian kita berkenalan sampai kemudian aku pergi entah kemana dan orang ramai di luar memberitakan aku tersesat. Bagaimana bila itu terjadi sesungguhnya…. hiiiii… ahh jangan. Aku tidak ingin menjadi pusat pemberitahuan dan seluruh orang  menjadi orang terkenal gara-gara hilang mengikuti wanita entah siapa di air terjun ini.

Aku segera berdiri, melangkahkan kaki meninggalkan batu besar itu selagi rombongan anak-anak itu masih tampak dari pandangan.

*syhm*

One response to “Air Terjung Malino

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s