Suatu Ketika dalam Hiburan Manten


Pada suatu acara pernikahan di sebuah desa di kabupaten di pulau Jawa.  Dikisahkanlah sebuah “hiburan”  yang mengiringi acara pernikahan dari pagi sampai malam hari.

Acara resmi dimulai pukul 08.30, dimulai dengan ayat-ayat suci al-Quran mengalun dari seorang wanita berkerudung dan diakhiri dengan seorang lelaki berkopiah berbaju koko menerjemahkannya dengan “ Mahasuci Allah yang telah menciptakan semua pasangan, baik dari apa yang tumbuh di bumi, dan dan jenis mereka (manusia) maupun dari (makhluk-makhluk) yang tidak mereka ketahui ( 36: 36) “.. Dan prosesi pernikahanpun mulailah.

Pukul 09.30 perjanjian sakral saat dimana hal yang tidak diperbolehkan menjadi boleh akhirnya terjadi. Suara tangis haru dari kedua mempelai mengiringi selesainya acara sakral itu. Tidak lama kemudian terdengar suara , “….duhai senangnya penganten baru.. duduk bersanding…“ sebuah lagu dari Nasida Ria dibawakan seorang wanita berkerudung dari atas panggung.  Diiringi dengan serombongan orang lelaki perempuan yang menggunakan baju putih-putih, yang wanita berkerudung dan yang lelaki berkopiah putih. Berurutab mereka menyanyikan lagu-lagu ruhani, mengiringi persiapan pengantin yang akan duduk di kursi pelaminan menjadi raja-ratu sehari.  Lagu-lagu yang dibawakannya lagu-lagu relijus baik khasidah, nasyid modern sampai dengan lagu-lagunya Bimbo. Itu berlangsung selama 1 jam ke depan.

Pukul 10.00 acara prosesi adat daerahpun berlangsung. Suara gendhing Kebo Giro mengiringi langkah-langkah pelan dan teratur sepasang penganten itu menuju singgasana.  Tembang asmaradhana karya R Ng Yosodipuro, ….dedalaning wong akrami……  keluar dari seorang lelaki paruh baya memberi nasehat kepada sepasang penganten itu , bagaimana hidup berumah tangga.

Sekian waktu berlalu, keluarlah berbagai makanan hidangan kepada para hadirin, Saat itulah seorang pria paruh baya tadi, berkumis tebal, berblangkon memberikan hiburan tembanga “…upomo sliramu sekar melati… aku kumbang nyidam sariii… upomo sliramu mergi wong maniss… aku kang tansah ngliwatii… .. “ lagu dari Manthous terdengar dari nya ditemani dengan seorang wanita montok kembenan seperti bajunya Suyahni yang di VCD, mereka berdua dan ditemani dengan 4 orang lainnya membawakan berbagai langgam Jawa sampai campursari.. yang ditingkahi dengan suara para gerong yang nyeletuk dari belakang layar. Hadirin pun duduk menikmati sambil makan hidangan dan sambil kipas-kipas kepanasan.

Pukul 14.00 upacara resmi adat pengantin selesai. Tetapi keluarga masih menerima kerabat dan semua yang tidak sempat hadir pada waktunya.

selain dirimu paksiihhh..tiada yang lain lagi“ suara Nurhalimah KW2 keluar dari biduan di hadapan seorang tamu lelaki yang menyawer-nya. Biduan dan biduanita, bergantian membawakan lagu-lagu dari Rhoma Irama, Mansyur S atau Elvi Sukaesih. Di luar, di atas panggung biduan dangdut berbaju ketat, celana ketat dan baju kaos ketat tapi lengan panjang. 1 jam menjelang adzan maghrib, Hiburan dangdut selesai.

Selepas maghrib suasana hening, sampai kemudian beberapa saat selepas isya’ tumpukan pengeras suara berdentam kembali, mendentamkan lagu suara dangdut dari VCD.

Pkl 21.00 penganten dan keluarga masih sibuk dengan berhaha-hihi menerima ucapan basa-basi dari rekan sejawat sama persis seperti tadi siang. Sementara di atas panggung,  hiburan dangdut dilanjutkan, sekarang lagu yang dibawakan adalah dangdut koplo dan campur sari.

23.00 temanten sekalian masuk kamar, kecapekan sekujur tubuh pegal-pegal melayani salaman dan ngomong-ngomong basa-basi kepada para tamu.  Meskipun begitu, nyala mata mereka tetap berbinar. Apa saja yang selama ini hanya menjadi bayangan, sebentar lagi akan menjadi nyata. Apakah mata berbinar akan mampu mengalahkan  pegal-pegal ? Itu urusan mereka berdua. Yang jelas di luar, di atas panggung, suara kendang menghentak-hentak mengiringi seorang Biduan meliuk-liukan pinggul, menaikkan darah lelaki yang menontonnya. “Kuda lumping… kuda lumping… kuda lumping… “ suara biduan itu dan disambut serempak para penonton dengan sepenuh gairah, “..kesurupannn..”

Sementara persis di depan panggung, anak-anak kecil bersorak-sorai mendongak melihat biduan yang hanya menggunakan selembar kain melingkar bokong, menutupi celana dalam yang dikenakan.  Membiarkan pusar kelihatan dan sebelum baju kaos ketat menutup lingkar dada.

Awas jangan dekat-dekattt….. melihat permainan iniiii…… “ si biduan menggerakkan jari-jarinya seirama dengan goyang pinggulnya, di hadapan anak-anak itu, dengan kerling  menggoda, seperti mengajak mereka untuk segera tumbuh dewasa.

Selesai itu berganti biduan yang membawakan Goyang Dombret dan Warudoyong. Inilah session terakhir dari hiburan manten. …. Dangdut Koplo Campur Saru.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One response to “Suatu Ketika dalam Hiburan Manten

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s